Haluannews Ekonomi – Rupiah memulai perdagangan hari ini, Selasa (11/11/2025), dengan sentimen negatif, tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Data Refinitiv menunjukkan mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp16.690 per dolar AS, terkoreksi 0,27% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Related Post
Sentimen pasar global yang membaik, dipicu oleh langkah Senat AS mendekati akhir penutupan pemerintahan federal, menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Kondisi ini meningkatkan selera risiko investor, mendorong aliran modal ke aset-aset berimbal hasil lebih tinggi di pasar negara berkembang.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) juga memberikan angin segar bagi rupiah. Data CME FedWatch mengindikasikan peluang sebesar 61% The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang. Prospek suku bunga yang lebih rendah berpotensi menekan imbal hasil dolar AS dan mendorong pelemahan terhadap mata uang negara berkembang.
Namun, penguatan rupiah diperkirakan terbatas mengingat indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis. Selain itu, menjelang libur Veterans Day di AS, volume perdagangan global cenderung menurun, berpotensi membuat aktivitas pasar valas global sepi. Investor akan terus mencermati perkembangan global dan domestik untuk mengukur arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar