Haluannews Ekonomi – Nilai tukar Rupiah masih berada dalam tekanan berat, tertahan di level psikologis Rp 17.000-an per Dolar AS. Kondisi ini dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang menciptakan ketidakpastian global dan mendorong penguatan Dolar AS sebagai aset safe-haven. Di tengah gejolak ini, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas mata uang domestik, namun langkah intervensi tersebut berdampak pada terkikisnya cadangan devisa negara.

Related Post
Pelemahan Rupiah yang berkelanjutan ini berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, yang pada gilirannya dapat mendorong inflasi dan membebani daya beli masyarakat, serta mengikis kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Data terbaru dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD 148,2 Miliar. Angka ini menurun signifikan dari posisi sebelumnya di akhir Februari 2026 yang mencapai USD 151,9 Miliar. Penurunan sebesar USD 3,7 Miliar, atau setara dengan sekitar Rp 62,9 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.000/Dolar AS, mengindikasikan intensitas intervensi BI di pasar valuta asing untuk meredam pelemahan Rupiah.
Elvan Chanra Widyatama, FX Analyst dari Haluannews.id, dalam program Squawk Box Haluannews.id pada Jumat (10/04/2026), menganalisis bahwa ketegangan di Timur Tengah memang menjadi faktor dominan. "Konflik geopolitik selalu mendorong investor mencari aset safe-haven seperti Dolar AS, sehingga permintaannya melonjak dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah," jelas Elvan. Ia menambahkan, tekanan ini diperparah dengan potensi kenaikan harga komoditas global, khususnya minyak, yang bisa memicu inflasi dan memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia, semakin menekan posisi Rupiah.
Analisis daya tahan Rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi global, terutama meredanya tensi di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan moneter Bank Indonesia akan terus menjadi sorotan. Meskipun cadangan devisa tergerus, BI diyakini masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas, namun dengan biaya yang tidak sedikit. Investor dan pelaku pasar kini menanti langkah strategis lanjutan dari otoritas moneter untuk memastikan Rupiah tidak terperosok lebih dalam, sekaligus menjaga kepercayaan terhadap fundamental perekonomian nasional di tengah badai ketidakpastian global.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar