haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkapar di zona merah pada perdagangan siang ini Selasa 30 Juni 2026. Pasar saham domestik menunjukkan performa yang mengkhawatirkan dengan penurunan tajam sebesar 242 persen atau setara 14104 poin ke level 567975. Kondisi ini diperparah oleh volume transaksi yang sangat lesu dan dominasi tekanan jual.

Related Post
Data perdagangan mencatat mayoritas saham bergerak di area negatif. Sebanyak 618 emiten harus rela parkir di zona merah sementara hanya 103 saham yang mampu bertahan di zona hijau dan 238 lainnya stagnan. Total nilai transaksi terpantau sangat minim dan didominasi oleh pergerakan dua saham raksasa yakni BBCA dan PANI yang menyumbang 615 persen dari keseluruhan aktivitas jual beli. Berbeda dengan hari sebelumnya tekanan jual langsung menghantam IHSG sejak pembukaan sesi. Sepanjang hari ini IHSG bergerak dalam rentang 563857 hingga 581167. Sebagai perbandingan pada penutupan perdagangan kemarin IHSG berada di level 582079 dengan koreksi 128 persen.

Menurut data Refinitiv saham BBCA menjadi beban terberat bagi IHSG dengan sumbangan koreksi mencapai 1873 poin. Disusul oleh BBRI yang membebani 941 poin dan ASII sebesar 678 poin. Sayangnya tidak ada saham dengan bobot signifikan yang mampu menahan laju penurunan IHSG siang ini.
Analis Doo Financial Sekuritas Lukman Leong mengungkapkan bahwa sentimen negatif dari hasil evaluasi lembaga pemeringkat global masih belum juga mereda. "Meskipun nilai tukar rupiah sudah menunjukkan stabilitas namun ancaman penurunan status pasar masih membayangi" ujarnya saat dihubungi oleh haluannews.id Selasa 30 Juni 2026. Selain itu perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga turut menekan sentimen risiko. "Investor asing pun cenderung melakukan transaksi jangka pendek masuk dan keluar dalam waktu yang singkat" tambahnya.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus. Ia menyebut para investor masih mencermati dengan seksama hasil penilaian dari lembaga rating S&P. "Sentimen hari ini juga lebih kepada penantian akan rating S&P" sebutnya. Maximilianus menambahkan bahwa sentimen negatif lainnya juga berasal dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih belum menunjukkan sinyal positif. "AS dan Iran mulai kembali melakukan pembicaraan namun kita justru masih seperti enggan untuk menanamkan modal" imbuhnya.
Pasar keuangan Indonesia akan mengakhiri sesi perdagangan untuk paruh pertama atau semester I tahun ini pada hari ini. Menjelang semester II bursa saham diharapkan dapat menunjukkan kebangkitan.
Terkait perkembangan konflik tim negosiasi Amerika Serikat AS dan Iran semula dijadwalkan bertemu di Doha pekan ini. Namun Iran menegaskan belum ada agenda perundingan resmi dengan AS meskipun kedua negara sama-sama mengirimkan delegasi ke Qatar. Berdasarkan nota kesepahaman MoU kedua negara memiliki waktu setidaknya 60 hari untuk membahas program nuklir Iran cadangan uranium yang diperkaya tinggi serta menyusun gencatan senjata permanen. Sayangnya proses negosiasi berjalan lambat karena kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.
Sementara itu Indeks Dolar AS mengalami pelemahan ke level 1011 pada Senin kemarin mencapai titik terendah dalam lima hari terakhir. Pelemahan indeks ini mengindikasikan bahwa investor tengah melepas aset dolar mereka. Kondisi ini diharapkan menjadi kabar baik bagi rupiah karena ada potensi masuknya modal asing ke pasar mata uang Garuda.









Tinggalkan komentar