Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan signifikan di awal perdagangan hari ini, Kamis (5/6/2025), setelah dua hari sebelumnya melemah. Penguatan ini dipicu oleh risiko fiskal, pertumbuhan ekonomi yang melambat, dan perdagangan AS yang lesu, yang secara bersamaan menekan dolar AS.

Related Post
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat 0,21% ke level Rp 16.250 per dolar AS. Dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (4/6/2025) di angka Rp 16.285 per dolar AS, ini menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) naik tipis 0,07% ke angka 98,85 pada pukul 09.00 WIB, setelah sebelumnya jatuh 0,44% ke level 98,78.

Analis memperkirakan pelemahan dolar AS akan berlanjut. Hal ini didorong oleh kekhawatiran yang meningkat terkait defisit dan utang federal AS yang membengkak. Survei Reuters terhadap para ahli strategi valuta asing menunjukkan mayoritas (hampir 90%) memperkirakan penurunan permintaan aset berdenominasi dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.
Kebijakan tarif yang tak menentu dari pemerintahan sebelumnya, ditambah dengan pemotongan pajak dan RUU belanja yang menambah US$ 3,3 triliun pada utang negara yang sudah mencapai US$ 36,2 triliun, semakin meningkatkan kekhawatiran investor. Lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang dan melemahnya hubungan antara dolar AS dengan imbal hasil Treasury 10 tahun semakin memperkuat sentimen negatif terhadap greenback.
Jane Foley, kepala strategi valas di Rabobank, menyebut adanya tren "jual-Amerika" yang sedang berlangsung. Ia menambahkan bahwa seberapa besar penurunan permintaan dolar bergantung pada seberapa besar dampak kebijakan pemerintah terhadap pertumbuhan AS. Jika prospek pertumbuhan ekonomi AS terganggu, maka tren pelemahan dolar akan berlanjut dalam jangka menengah.
Kekhawatiran mengenai status "safe haven" dolar AS juga meningkat. Lebih dari 55% analis dalam jajak pendapat Reuters pada Mei mengungkapkan kekhawatiran ini, naik dari sekitar sepertiga pada April.
Data terbaru memperkuat sentimen negatif terhadap dolar AS. Sektor jasa AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam hampir setahun pada Mei, sementara bisnis harus membayar lebih tinggi untuk input produksi. Hal ini menunjukkan risiko ekonomi AS mengalami pertumbuhan yang sangat lambat dan inflasi tinggi. Indeks Manajer Pembelian (PMI) non-manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) turun menjadi 49,9, di bawah angka 50 untuk pertama kalinya sejak Juni 2024.
Haluannews.id Research
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar