haluannews.id – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya di hadapan dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Rupiah berhasil mencatatkan penguatan signifikan, membalikkan tren pelemahan sebelumnya, seiring dengan meredupnya pamor indeks dolar AS di pasar global. Pertanyaan besar pun muncul: mungkinkah rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat?

Related Post
Menurut Myrdal Gunarto, seorang ekonom dari Bank BTN, perjalanan rupiah menuju kisaran Rp17.000-an tidaklah mudah, namun bukan mustahil. Ada beberapa prasyarat krusial yang harus terpenuhi. "Jika ingin kembali di bawah Rp18.000, kuncinya adalah meredanya tekanan global secara menyeluruh, konflik geopolitik benar-benar berakhir, serta harga minyak dunia yang stabil di bawah US$70 per barel," ungkap Myrdal kepada haluannews.id, Jumat lalu.

Selain itu, pandangan positif dari investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia juga menjadi faktor penentu. Myrdal menambahkan, jika kombinasi kondisi ideal tersebut terwujud, maka rupiah berpotensi besar untuk menguat hingga mencapai level Rp17.600 per dolar AS. "Investor pasti akan kembali melirik Indonesia, mendorong penguatan rupiah kembali di bawah Rp18.000. Proyeksi kami memang di sekitar Rp17.600," tegasnya.
Sebagai informasi, rupiah sempat kembali melampaui batas Rp18.000 per dolar AS setelah sebelumnya sempat berada di kisaran Rp17.000-an. Namun, pada perdagangan Jumat lalu, mata uang kebanggaan Indonesia ini berhasil ditutup di posisi Rp18.045 per dolar AS, mengukir apresiasi sebesar 0,14%. Capaian ini sekaligus menjadi pembalikan arah setelah rupiah sempat mencatat level terlemahnya dalam sebulan terakhir pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sepanjang sesi perdagangan hari itu, rupiah memang telah menunjukkan sinyal positif sejak pembukaan, terus menguat hingga penutupan. Pergerakan rupiah terpantau stabil di rentang Rp18.045 hingga Rp18.075 per dolar AS.
Sementara itu, di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau terkoreksi 0,11% ke level 100,788 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan dolar AS ini menjadi angin segar yang turut mendorong performa rupiah.
Dolar AS sendiri tercatat melemah untuk sesi kedua berturut-turut. Meskipun ketegangan di Timur Tengah kembali memanas akibat serangan antara Amerika Serikat dan Iran, para pelaku pasar juga terlihat lebih fokus mencermati dinamika harga minyak global serta prospek inflasi dunia, yang pada akhirnya menekan nilai tukar dolar AS.










Tinggalkan komentar