Misteri Kejatuhan Saham JELI BACH Terkuak

Misteri Kejatuhan Saham JELI BACH Terkuak

haluannews.id – Euforia penawaran umum perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendadak meredup pada perdagangan Jumat 10 Juli 2026. Dua emiten pendatang baru di awal Juli, PT Niramas Utama Tbk JELI dan PT Bach Multi Global Tbk BACH, kompak dihantam gelombang aksi jual masif dari investor.

COLLABMEDIANET

Saham JELI produsen makanan INACO menjadi bintang keterpurukan hari ini. Emiten ini ambles 1481 persen ke level 1495 rupiah per saham dan menyentuh batas Auto Rejection Bawah ARB. Sementara itu saham BACH perusahaan genset dan infrastruktur telekomunikasi afiliasi Grup Djarum rontok hampir 10 persen menjadi 500 rupiah per saham.

Misteri Kejatuhan Saham JELI BACH Terkuak
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa dua emiten baru lainnya. PT RANS Entertainment Indonesia Tbk RANS milik Raffi Ahmad justru melesat ke ARA pada hari perdananya. Begitu pula PT Prodia Diagnostic Line Tbk PRDL yang ikut memimpin daftar saham paling diincar. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG sendiri terpantau bergerak tenang di zona hijau.

Ada Apa dengan Saham JELI

JELI resmi melantai pada 7 Juli 2026 dengan harga IPO 900 rupiah per saham. Perusahaan melepas 266 juta saham setara 2101 persen modal dan meraup dana 2394 miliar rupiah. PT Sucor Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi.

Permasalahan utama terletak pada valuasi yang melambung tinggi jauh meninggalkan kinerja labanya. Sepanjang 2025 JELI hanya membukukan laba bersih 390 miliar rupiah. Angka ini memang melonjak 2355 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 116 miliar rupiah. Namun lonjakan persentase tersebut berasal dari basis yang sangat kecil. Dengan laba sekecil itu harga IPO JELI sudah mencerminkan rasio harga terhadap laba PER di kisaran 31-39 kali. Angka ini jauh di atas rata-rata emiten sejenis di sektor makanan dan minuman yang berada di rentang 12-18 kali. Di harga pasar saat ini apalagi di puncaknya kemarin valuasi tersebut kian sulit dipertanggungjawabkan oleh kinerja riil.

Yang membuat premium tersebut makin rentan adalah arah bisnis intinya. Alih-alih tumbuh pendapatan JELI justru menyusut tiga tahun berturut-turut dari 83894 miliar rupiah pada 2023 menjadi 75305 miliar rupiah pada 2025. Artinya lonjakan laba yang menjadi daya tarik utama emiten ini bukan berasal dari bertambahnya volume penjualan melainkan dari efisiensi dan perbaikan margin. Sumber pertumbuhan ini memiliki batas dan tidak bisa diulang tanpa henti setiap tahun. Ketika ruang efisiensi habis pertanyaannya kembali ke apakah penjualan bisa benar-benar tumbuh.

Sinyal paling mencolok justru muncul dari arus kasnya. Berdasarkan prospektus arus kas dari aktivitas operasi JELI ambruk sekitar 83 persen pada 2025. Penyebabnya adalah lonjakan piutang usaha dari 10421 miliar rupiah menjadi 17413 miliar rupiah akibat penjualan kredit menjelang akhir tahun. Kondisi ini menjadi lampu merah klasik soal kualitas laba keuntungan yang tercatat di atas kertas belum tentu berubah menjadi kas yang benar-benar masuk ke kas perusahaan sekaligus memunculkan risiko gagal bayar dari sisi distributor.

Rekam jejak dalam berbagi keuntungan pun belum teruji. Sejak berdiri pada 1990 atau lebih dari tiga dekade lalu perseroan tercatat belum pernah sekalipun membagikan dividen kepada pemegang saham. Manajemen memang menjanjikan kebijakan dividen tunai hingga maksimal 30 persen dari laba bersih setelah IPO tetapi komitmen tersebut masih sebatas rencana yang perlu dibuktikan pada tahun-tahun mendatang.

Di luar itu JELI sendiri secara terbuka mencantumkan risiko volatilitas harga dan ketersediaan bahan baku sebagai salah satu risiko utama dalam prospektusnya. Faktor ini sangat relevan mengingat bisnisnya bertumpu pada komoditas berbasis kelapa dan serat alami.

Secara keseluruhan kombinasi harga yang premium mesin pertumbuhan yang justru menyusut dan arus kas operasional yang seret menjadikan posisi hold jangka panjang di saham ini jauh lebih berisiko dibanding sekadar ikut berspekulasi di hari-hari awal listing. Bagi investor membaca angka di balik hiruk-pikuk ARA menjadi keharusan sebelum memutuskan untuk masuk.

Ada Apa dengan BACH

BACH melantai di bursa pada 8 Juli 2026 dengan harga final 442 rupiah per saham dari rentang bookbuilding 400-500 rupiah. Perusahaan melepas 615 juta saham setara 1506 persen modal free float yang termasuk tipis. PT Erdikha Elit Sekuritas bersama PT Pilarmas Investindo Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi.

Pelemahan saham BACH hari ini bukan tanpa alasan melainkan telah muncul sinyal yang perlu diwaspadai. Data ringkasan broker sejak listing menunjukkan satu broker tercatat sebagai net seller senilai sekitar 1174 miliar rupiah di BACH yang merupakan angka terbesar di antara emiten IPO batch ini. Indikator ini mengarah ke fase Big Distribution. Jejak seperti ini kerap mendahului tekanan harga pada saham yang baru melantai.

Dari sisi fundamental sorotan pertama datang dari sisi likuiditas. Berdasarkan prospektus rasio kas cash ratio BACH pada 2025 tercatat hanya 002 kali atau sekitar 2 persen anjlok dari 009 kali pada tahun sebelumnya. Angka setipis itu menunjukkan ruang gerak yang sangat sempit bagi perseroan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kondisi ini perlu terus dipantau terutama karena sebagian dana IPO justru dialokasikan untuk modal kerja pembelian genset.

Persoalan kedua menyangkut ketergantungan pada pihak terafiliasi. Sebagian besar klien di lini telekomunikasi BACH merupakan entitas yang berada dalam ekosistem Grup Djarum sendiri seperti TOWR Protelindo dan SUPR. Struktur ini memang memberikan stabilitas pendapatan dalam jangka pendek tetapi sekaligus membuat kinerja perseroan sangat bergantung pada keputusan bisnis internal grup ketimbang murni dinamika pasar.

Dari sisi operasional BACH menghadapi risiko rantai pasok. Perseroan sangat bergantung pada prinsipal genset luar negeri seperti Himoinsa dan Guangdong Westinpower untuk komponen utamanya. Ini membuatnya rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun gangguan pasokan global. Selain itu peningkatan rasio utang mengikat perseroan pada negative covenants yang ketat dari perbankan yang dapat membatasi ruang gerak aksi korporasi tanpa persetujuan kreditur.

Yang juga tak kalah penting adalah overhang pada struktur kepemilikan. Prospektus mengungkap adanya perjanjian opsi antara pemegang saham di mana PT Global Telekomunikasi Prima GTP selaku entitas Djarum akan mengeksekusi hak opsi pembelian saham sehingga kepemilikannya di BACH naik menjadi 51 persen. Ini dijadwalkan terjadi tak lebih dari lima hari kerja setelah pencatatan saham di bursa. Perubahan struktur pengendalian secepat itu menjadi variabel yang perlu dicermati investor jangka menengah.

Terakhir dengan porsi saham publik atau free float yang hanya 1506 persen jumlah saham yang beredar di pasar relatif terbatas. Kondisi ini membuat harga BACH lebih mudah bergerak liar oleh volume perdagangan yang tidak terlalu besar memperbesar volatilitas di pasar.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar