Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Jakarta menyaksikan kinerja impresif mata uang Garuda pada pembukaan pekan, Senin (20/4/2026). Rupiah berhasil menorehkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), memberikan sinyal positif di tengah dinamika pasar global yang penuh ketidakpastian.

Related Post
Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, rupiah menutup sesi perdagangan di zona apresiasi, naik 0,09% dan bertengger di level Rp17.165 per dolar AS. Capaian ini menjadi pembalasan manis setelah pada penutupan pekan sebelumnya, Jumat (17/4/2026), rupiah sempat tertekan cukup dalam, anjlok 0,32% ke posisi Rp17.180 per dolar AS.

Sejak pembukaan perdagangan, momentum penguatan rupiah sudah terasa. Mata uang domestik sempat menyentuh level apresiasi tertinggi 0,15% di Rp17.140 per dolar AS pada sesi awal. Meskipun terjadi sedikit koreksi menjelang penutupan, rupiah berhasil mempertahankan posisinya di teritori positif.
Kontras dengan pergerakan rupiah, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, justru terpantau menguat 0,22% ke level 98,310 pada pukul 15.00 WIB.
Fenomena ini menjadi sorotan para analis, mengingat penguatan rupiah terjadi di tengah dominasi Dolar AS yang masih perkasa. Rupiah menunjukkan resiliensi luar biasa, mampu menahan tekanan greenback yang kerap diburu investor sebagai aset safe haven di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik yang memanas di Timur Tengah.
Sebelumnya, dolar AS sempat mencapai level tertinggi dalam sepekan terhadap mata uang global lainnya pada sesi pagi, sebelum kemudian memangkas sebagian apresiasinya.
Dinamika pasar ini tak lepas dari eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali mencuat, meredupkan harapan akan resolusi damai di kawasan Timur Tengah. Pada Minggu, AS mengumumkan penyitaan kapal kargo Iran yang diduga melanggar blokade, sebuah tindakan yang langsung direspons Teheran dengan ancaman pembalasan. Situasi ini sontak memicu kekhawatiran pasar akan potensi konflik yang lebih luas.
Lebih lanjut, Teheran juga menolak untuk berpartisipasi dalam putaran kedua perundingan yang sebelumnya diinisiasi AS, padahal negosiasi tersebut diharapkan dapat dimulai sebelum gencatan senjata dua pekan dengan Iran berakhir pada Selasa.
Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo, seperti dikutip dari Reuters, menyoroti bahwa eskalasi sepanjang akhir pekan telah membangkitkan kembali "premi risiko geopolitik". Ini terjadi di saat pasar sebelumnya mulai mengantisipasi kemungkinan perdamaian. Chanana menambahkan, lonjakan harga minyak saat ini bukan hanya refleksi dari isu energi semata, melainkan juga indikator penting bagi prospek pertumbuhan ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar