Rupiah Menggebrak! Dolar AS Tumbang ke Rp17.140, Ada Apa?

Rupiah Menggebrak! Dolar AS Tumbang ke Rp17.140, Ada Apa?

Haluannews Ekonomi – Mata uang Garuda menunjukkan performa impresif pada awal pekan ini, Senin (20/4/2026), dengan berhasil menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Fenomena ini menarik perhatian pasar mengingat dolar AS sendiri sedang perkasa di kancah global.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data yang dihimpun Haluannews.id dari Refinitiv, rupiah membuka sesi perdagangan perdana pekan ini di zona positif, mencatat apresiasi sebesar 0,23% dan bertengger di level Rp17.140 per dolar AS. Capaian ini menjadi angin segar setelah pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya, rupiah sempat melemah 0,32% ke Rp17.180 per dolar AS.

Rupiah Menggebrak! Dolar AS Tumbang ke Rp17.140, Ada Apa?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kontras dengan penguatan rupiah, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau menguat 0,26% pada pukul 09.00 WIB, mencapai level 98,356.

Analis pasar memperkirakan bahwa dinamika pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari pengaruh faktor eksternal, khususnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini secara simultan memicu penguatan dolar AS sebagai aset safe haven di pasar global.

Pada Senin pagi, dolar AS memang tercatat mencapai level tertinggi dalam sepekan terakhir dibandingkan mata uang mayor lainnya. Lonjakan ini dipicu oleh kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah rapuhnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai di kawasan Timur Tengah. Akibatnya, para investor berbondong-bondong mencari perlindungan pada aset-aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS.

Ketegangan memuncak setelah Amerika Serikat pada Minggu (19/4/2026) mengumumkan penyitaan sebuah kapal kargo Iran yang diduga mencoba melanggar blokade. Merespons tindakan tersebut, Teheran dengan tegas menyatakan akan melakukan pembalasan, sebuah ancaman yang sontak meningkatkan kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

Iran juga telah mengindikasikan penolakannya untuk berpartisipasi dalam putaran kedua perundingan. Padahal, negosiasi ini sebelumnya sangat diharapkan oleh AS dapat dimulai sebelum berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan dengan Iran pada hari Selasa.

Charu Chanana, Chief Investment Strategist dari Saxo, seperti dikutip dari Reuters, menyoroti bahwa eskalasi yang terjadi sepanjang akhir pekan telah menghidupkan kembali "premi risiko geopolitik." Ini terjadi di saat pasar sebelumnya mulai mengkalkulasi peluang perdamaian. Chanana menambahkan, kenaikan harga minyak yang terpantau saat ini bukan hanya sekadar isu energi, melainkan memiliki implikasi luas terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar