Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat (3/10/2025). Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka melemah 0,12% ke level Rp16.600 per dolar AS. Padahal, pada perdagangan sebelumnya, Kamis (2/10/2025), rupiah sempat menguat tipis 0,12% ke Rp16.580 per dolar AS.

Related Post
Kondisi ini berbanding terbalik dengan indeks dolar AS (DXY) yang justru menunjukkan penguatan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat naik 0,01% ke level 97,857. Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah kemarin rebound dan ditutup di level 97,846 atau menguat 0,14%.

Pelemahan rupiah hari ini diprediksi akibat rebound dolar AS setelah sebelumnya tertekan selama empat hari akibat penutupan pemerintahan AS. Aksi profit taking dan penyesuaian posisi di pasar valuta asing menjadi faktor pendorong kenaikan indeks dolar AS.
Sebelumnya, banyak pelaku pasar memperkirakan penutupan pemerintahan AS akan terus menekan dolar AS. Namun, analis pasar Chandler dari Reuters berpendapat bahwa banyak pelaku pasar salah posisi, sehingga terpaksa keluar dari posisi tersebut, memicu rebound dolar AS.
Sentimen lain yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar melihat probabilitas hampir pasti 90% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober, dengan potensi pemangkasan tambahan di bulan Desember.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar