Mengejutkan! Lo Kheng Hong Sebut Menabung Bikin Miskin Perlahan

Mengejutkan! Lo Kheng Hong Sebut Menabung Bikin Miskin Perlahan

Haluannews Ekonomi – Sejak dini, masyarakat Indonesia akrab dengan anjuran untuk menabung sebagai fondasi perencanaan keuangan yang sehat. Namun, paradigma konvensional ini diguncang oleh pandangan kontroversial dari investor kawakan Lo Kheng Hong. Sosok yang kerap dijuluki "Warren Buffett-nya Indonesia" ini secara tegas menyatakan bahwa menyimpan uang di bank justru akan membawa investor pada kemiskinan secara perlahan. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Lo Kheng Hong saat menjadi pembicara di Capital Market Summit & Expo (CMSE), seperti dikutip Haluannews.id pada Sabtu (30/5/2026).

COLLABMEDIANET

Menurut Lo Kheng Hong, alasan di balik pandangannya ini sangat fundamental: erosi nilai uang. "Menyimpan uang di bank sebetulnya membuat kita miskin secara pelan-pelan karena nilai uang kita semakin hari semakin turun," tegasnya. Inflasi yang terus bergerak naik akan menggerus daya beli uang yang tersimpan di rekening, membuat jumlah nominal yang sama memiliki kekuatan belanja yang lebih rendah di masa depan. Ini adalah proses pemiskinan yang terjadi secara gradual, seringkali tanpa disadari.

Mengejutkan! Lo Kheng Hong Sebut Menabung Bikin Miskin Perlahan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tidak hanya tabungan bank, Lo Kheng Hong juga mengungkapkan ketidak tertarikannya pada instrumen investasi lain seperti obligasi atau surat utang. Ia menilai imbal hasil yang ditawarkan obligasi tidak cukup besar untuk mengimbangi potensi penurunan nilai uang. Demikian pula dengan emas, yang menurutnya tidak menjadi pilihan utama dalam strategi investasinya.

Satu-satunya instrumen investasi yang menarik perhatian Lo Kheng Hong adalah saham. Ia membuktikan bahwa investasi saham, khususnya di pasar Indonesia, telah berhasil melipatgandakan kekayaannya hingga mencapai ratusan miliar rupiah. "Bursa saham Indonesia menawarkan imbal hasil tertinggi di antara bursa saham utama di dunia bagi investor jangka panjang. Sudah terbukti! Saya bersyukur saya ada di dalamnya," ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Ironisnya, Lo Kheng Hong menyoroti bahwa hampir 99% masyarakat Indonesia masih skeptis terhadap investasi saham. Mayoritas lebih memilih menempatkan uang mereka di bank atau mengalihkannya ke properti, dibanding mengambil peluang di pasar modal. Padahal, menurutnya, potensi keuntungan yang ditawarkan saham jauh melampaui instrumen tradisional tersebut.

Keberhasilan Lo Kheng Hong bukan tanpa alasan. Ia dikenal sebagai investor yang sangat teliti, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelaah laporan keuangan perusahaan. Pendekatan fundamental yang kuat ini memastikan setiap keputusan investasinya didasari oleh analisis mendalam, bukan spekulasi semata.

Salah satu kisah sukses ikoniknya adalah investasi pada saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) pada tahun 1998. Kala itu, laba bersih UNTR tercatat minus Rp 1 triliun. Namun, Lo Kheng Hong melihat potensi dari pendapatan operasional perusahaan yang solid sekitar Rp 2 triliun-Rp 4 triliun, dengan laba operasional sekitar Rp 1 triliun. Ia menyimpulkan bahwa laba bersih yang minus tersebut lebih disebabkan oleh fluktuasi kurs mata uang. Keberanian dan ketelitian analisisnya membuahkan cuan fantastis hingga 5.900% dari saham UNTR.

Tidak berhenti di situ, kisah serupa terulang pada saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP). Lo Kheng Hong membeli saham INKP pada harga Rp 1.000 per saham dan berhasil melepasnya pada harga rata-rata Rp 10.000 per saham. Dari transaksi ini, ia meraup keuntungan signifikan, mengubah investasinya dari Rp 35 miliar menjadi Rp 350 miliar hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun, atau setara dengan imbal hasil 900%.

Di balik semua strategi dan analisis fundamental, Lo Kheng Hong menekankan satu kunci utama kesuksesan seorang investor saham: kemampuan mengendalikan emosi. Disiplin dan ketenangan dalam menghadapi volatilitas pasar adalah pondasi untuk meraih keuntungan jangka panjang. Pesan Lo Kheng Hong ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih instrumen investasi dan mengevaluasi kembali kebiasaan keuangan yang mungkin secara tidak sadar justru mengikis kekayaan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar