haluannews.id – Setelah menikmati empat hari berturut-turut dalam posisi perkasa, mata uang Garuda kini harus menghadapi kenyataan pahit. Rupiah terpantau tergelincir di awal sesi perdagangan hari ini, kehilangan sedikit kekuatannya di hadapan dominasi dolar Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan rupiah terdepresiasi 0,17 persen, memposisikan diri pada level Rp17.780 per dolar AS.

Related Post
Pelemahan ini datang sebagai kejutan setelah serangkaian performa impresif. Pada perdagangan Senin sebelumnya, mata uang domestik ini sempat melonjak 0,75 persen, menutup hari di angka Rp17.750 per dolar AS. Tren penguatan tersebut, yang dimulai sejak 5 Agustus 2026, telah memberikan harapan baru bagi pasar.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama global, pada pukul 09.00 WIB justru sedikit melemah 0,06 persen ke level 99,571. Penurunan tipis ini terjadi setelah sehari sebelumnya DXY sempat menguat 0,27 persen.
Dinamika pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari gejolak dolar AS di pasar global serta perkembangan signifikan dari dalam negeri terkait kepemimpinan Bank Indonesia. Sebelumnya, dolar AS sempat menguat pasca lonjakan harga minyak lebih dari 4 persen. Kenaikan harga komoditas energi ini dipicu oleh ketegangan antara Iran dan AS yang saling menuntut kompensasi, meredupkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Kecemasan akan tekanan inflasi di Negeri Paman Sam kembali mencuat akibat kenaikan harga energi ini. Situasi tersebut mendorong sebagian investor untuk kembali memburu dolar, menjelang pengumuman data inflasi konsumen AS periode Juli yang dijadwalkan pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat.
Namun, ruang gerak penguatan dolar AS masih terbatas. Data ketenagakerjaan AS yang jauh di bawah ekspektasi menjadi penghalang. Perekonomian AS dilaporkan kehilangan lapangan kerja pada bulan Juli, dengan data penambahan tenaga kerja dua bulan sebelumnya juga direvisi turun secara signifikan. Angka-angka ini mereduksi keyakinan pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan segera menaikkan suku bunga. Peluang kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan hanya 52 persen, turun drastis dari 67 persen pada pekan lalu.
Dari ranah domestik, perhatian pasar tertuju pada proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia. Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengonfirmasi bahwa surat pencalonan tersebut telah dikirimkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"Namanya tunggal, satu nama, Bu Destry Damayanti," ujar Prasetyo kepada awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026). Saat ini, Destry menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Pengajuan calon tunggal ini memberikan kepastian lebih besar mengenai arah kebijakan moneter ke depan, meskipun Destry masih harus melewati serangkaian proses di DPR sebelum resmi menjabat sebagai Gubernur BI definitif.










Tinggalkan komentar