OJK Bongkar Ancaman Besar Multifinance

OJK Bongkar Ancaman Besar Multifinance

haluannews.id – Otoritas Jasa Keuangan OJK baru-baru ini membuka tabir sejumlah persoalan krusial yang kini membayangi industri multifinance di tengah gejolak ekonomi dan dinamika pasar keuangan. Salah satu ganjalan utama yang disorot adalah perihal suku bunga yang tinggi.

COLLABMEDIANET

Jasmi Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan Modal Ventura LKM dan LJK Lainnya OJK menjelaskan bahwa operasional bisnis multifinance tidak semata bergantung pada modal internal. Dukungan pendanaan dari berbagai lembaga jasa keuangan lain menjadi tulang punggung. Oleh karena itu kondisi suku bunga yang diprediksi bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer harus diantisipasi secara cermat agar dampaknya terhadap sektor ini tetap terkendali.

OJK Bongkar Ancaman Besar Multifinance
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Selain tekanan suku bunga Jasmi juga menyoroti tantangan dalam menjaga kualitas pembiayaan. Kemampuan bayar para debitur yang mulai tertekan menjadi perhatian serius. Situasi ini menuntut kewaspadaan agar pertumbuhan pembiayaan tetap sehat dan berkelanjutan. Rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing NPF harus senantiasa dijaga pada level yang aman. Di samping itu industri juga dihadapkan pada kompleksitas proses penagihan dan pengelolaan risiko pembiayaan.

"Jika pengelolaan ini tidak dilakukan dengan baik potensi tantangan untuk pembiayaan baik yang baru maupun yang sedang berjalan di multifinance bisa semakin tinggi" ungkap Jasmi dalam acara Multifinance CEO Gathering haluannews.id pada Selasa 11 Agustus 2026.

Lebih lanjut Jasmi menekankan pentingnya inovasi dan adaptasi model bisnis. Perubahan lingkungan usaha yang begitu cepat memaksa perusahaan pembiayaan untuk lebih gesit dalam merespons kebutuhan pasar dan kemajuan teknologi. Karakteristik pembiayaan di Indonesia khususnya untuk segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM memerlukan pendekatan yang spesifik. Pengelolaan yang tepat sangat vital untuk menjaga kualitas pembiayaan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor produktif.

Tantangan operasional juga tak luput dari perhatian. Pelaku industri multifinance dituntut untuk cakap mengelola berbagai perubahan baik faktor internal maupun eksternal demi menjaga efektivitas operasional bisnis. Tak hanya itu perusahaan pembiayaan juga harus mampu memenuhi ekspektasi beragam pemangku kepentingan. Mulai dari pemegang saham masyarakat hingga regulator semuanya menaruh harapan besar terhadap kinerja tata kelola dan keberlanjutan bisnis multifinance.

Data OJK per Juni 2026 menunjukkan piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp51126 triliun. Angka ini tumbuh 188 persen secara tahunan year on year yoy. Namun pertumbuhan tersebut melambat signifikan dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 692 persen dan bahkan sedikit lebih rendah dari Juni 2025 yang sebesar 196 persen.

Di tengah pertumbuhan yang terbatas rasio NPF gross multifinance tercatat 301 persen pada Juni 2026. Meskipun sedikit menurun dari Mei 2026 yang sebesar 306 persen level ini masih lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang berada di angka 255 persen. Sementara itu NPF net tercatat 081 persen pada Juni 2026 turun dari 085 persen pada Mei 2026 dan 088 persen pada Juni 2025.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar