haluannews.id – Bursa saham Tanah Air dihebohkan oleh pergerakan fantastis saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten Grup Sinar Mas. Pada perdagangan Senin 10 Agustus 2026, terjadi transaksi jumbo senilai lebih dari Rp 1,3 triliun di pasar negosiasi, memicu berbagai spekulasi di kalangan investor.

Related Post
Data perdagangan menunjukkan, sebanyak 1,33 miliar lembar saham DSSA, atau setara 13,3 juta lot, berpindah tangan dalam tiga kali transaksi di pasar negosiasi. Harga rata-rata per saham ditetapkan di angka Rp 974, menghasilkan total nilai transaksi mencapai Rp 1.297,2 miliar. Angka ini menarik perhatian karena dieksekusi dengan diskon sekitar 1,12% dibandingkan harga penutupan DSSA di pasar reguler pada hari yang sama, yakni Rp 985 per saham.

Identitas pasti para pihak di balik transaksi raksasa ini masih menjadi misteri. Namun, laporan distribusi broker di pasar negosiasi mengindikasikan adanya keterlibatan broker dari internal grup. Seluruh transaksi penjualan senilai Rp 1,30 triliun difasilitasi oleh PT Sinarmas Sekuritas (kode broker DH). Sementara itu, di sisi pembeli, PT RHB Sekuritas Indonesia (DR) mengambil bagian senilai Rp 677,62 miliar, dan sisanya sebesar Rp 619,12 miliar juga dibeli oleh Sinarmas Sekuritas (DH).
Peristiwa ini berlangsung bersamaan dengan agenda korporasi DSSA. Sebelumnya, manajemen perseroan telah mengumumkan rencana pengalihan saham hasil pembelian kembali (buyback) sebanyak 9.631.904.000 lembar saham, atau sekitar 5% dari total saham yang beredar. Proses pengalihan ini dijadwalkan melalui penjualan di bursa, dimulai sejak 10 Agustus 2026 hingga seluruhnya tuntas. Dalam pelaksanaannya, DSSA menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai anggota bursa yang bertanggung jawab atas proses pengalihan saham tersebut, dengan harga yang mengikuti ketentuan pasar modal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen DSSA terkait transaksi negosiasi yang menggemparkan tersebut. Namun, minat investor asing terhadap saham DSSA pada hari Senin itu tercatat sangat tinggi. Di seluruh pasar, investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) mencapai Rp 1,40 triliun, dengan total pembelian asing sebesar Rp 1,66 triliun berbanding penjualan asing Rp 258,66 miliar. Mayoritas aliran dana asing ini, tepatnya Rp 1,30 triliun, berasal dari pasar tunai dan negosiasi, sementara di pasar reguler hanya tercatat net buy Rp 105,34 miliar.
Penting untuk diketahui, transaksi di pasar negosiasi dilakukan berdasarkan kesepakatan harga langsung antara penjual dan pembeli, di luar mekanisme lelang pasar reguler. Oleh karena itu, transaksi semacam ini tidak memiliki dampak langsung terhadap pembentukan harga penutupan saham di pasar reguler.
Meski demikian, sehari setelah transaksi jumbo tersebut, saham DSSA justru mengalami tekanan. Pada perdagangan Selasa 11 Agustus 2026, DSSA sempat dibuka menguat di level Rp 990 dan mencapai puncak Rp 995. Namun, tekanan jual dengan cepat menyeret harga saham ke zona merah, bahkan sempat anjlok hingga Rp 935 per saham, melemah 5,08% dari penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi awal, saham DSSA bergerak fluktuatif di kisaran Rp 940-Rp 960.
Sepanjang tahun ini, DSSA memang dikenal sebagai salah satu saham dengan pergerakan paling dinamis di bursa. Volatilitas ini seiring dengan transformasi bisnis perseroan yang bergeser dari ketergantungan pada batu bara menuju pengembangan ekosistem energi baru terbarukan (EBT) dan infrastruktur digital, termasuk investasi besar pada pusat data dan layanan internet.










Tinggalkan komentar