Haluannews Ekonomi – Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan pagi Jumat (10/4/2026). Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, mata uang Garuda terdepresiasi 0,18% ke level Rp17.110/US$ hingga pukul 09.47 WIB. Bahkan, rupiah sempat menyentuh posisi Rp17.115/US$, mencatatkan rekor terlemah baru sepanjang masa secara intraday. Kondisi ini sontak memunculkan pertanyaan krusial: seberapa kuat ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menghadapi tekanan kurs yang kian mendalam ini?

Related Post
Ekonom Pasar Global Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, memberikan pandangannya terkait dampak pelemahan rupiah terhadap APBN. Menurut Myrdal, tekanan langsung terhadap defisit APBN akibat pergerakan nilai tukar rupiah ke level Rp17.100 masih tergolong terbatas. "Jika hanya dari nilai tukar rupiah saja, perhitungan kami menunjukkan tambahan defisit masih kurang dari Rp5 triliun, sekitar Rp4,2 triliun," jelas Myrdal kepada Haluannews.id.

Namun, Myrdal mengingatkan bahwa dampak lanjutan yang lebih luas justru patut diwaspadai. Pelemahan rupiah berpotensi memperbesar beban impor, terutama untuk komoditas energi seperti minyak. Jika harga minyak dunia bertahan di atas US$70 per barel, tekanan terhadap fiskal negara bisa meningkat secara signifikan. "Ini kalau dampak implikasinya ke yang lainnya bisa lebih luas, seperti harga minyak. Karena kita mengimpor minyak, dan itu sangat sensitif terhadap harga. Jika harga minyak lebih dari US$70 per barel, ini bisa menambah beban fiskal," tambahnya.
Dirinya juga menyoroti faktor musiman yang kerap membuat rupiah cenderung melemah antara bulan April hingga Juli. Periode ini ditandai dengan peningkatan permintaan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan serta pelunasan utang luar negeri. Situasi ini akan semakin pelik jika harga minyak tetap tinggi, yang berpotensi mengikis surplus neraca perdagangan dan bahkan mendorongnya ke defisit.
Meskipun demikian, Myrdal menilai risiko terhadap pembiayaan bunga utang masih dapat dimitigasi. Pemerintah dan sektor swasta diyakini telah melakukan strategi lindung nilai (hedging) terhadap nilai tukar. "Bunga utang seharusnya ada mitigasi dengan cara pemerintah ataupun juga swasta melakukan kebijakan hedging nilai tukar, jadi harusnya ini aman," ujarnya. Mengenai prospek ke depan, Myrdal memperkirakan rupiah bisa kembali menguat di bawah Rp17.000/US$ jika konflik geopolitik berakhir bulan ini dan Selat Hormuz dibuka. Namun, jika ketegangan berlanjut, rupiah berpotensi mencapai level sekitar Rp17.248/US$.
Di sisi lain, analis mata uang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memiliki pandangan yang lebih pesimistis. Menurutnya, posisi rupiah saat ini justru mengindikasikan bahwa APBN berada dalam kondisi yang tidak aman. Ibrahim menyoroti asumsi dasar nilai tukar dalam APBN 2026 yang dipatok di level Rp16.500/US$. Dengan kurs yang telah menembus Rp17.100, ia menilai pemerintah perlu segera mempertimbangkan revisi asumsi tersebut.
"Perlu ada revisi APBN untuk mengubah patokan rupiah. Berarti bisa saja Rp17.000 atau Rp17.400 atau Rp17.500/US$. Dengan revisi tersebut, ketahanan APBN akan lebih aman," tegas Ibrahim kepada Haluannews.id.
Ibrahim menambahkan, pelemahan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia menyebut rencana kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel sebagai sentimen kunci dalam waktu dekat. "Hari ini ada perjanjian yang akan ditandatangani di Pakistan antara Amerika dengan Iran dan Israel tentang gencatan senjata selama dua minggu. Keberhasilan ini akan sangat menentukan. Jika berhasil, kemungkinan besar rupiah akan mengalami penguatan," pungkasnya.
Perbedaan pandangan dari para ekonom ini menggarisbawahi kompleksitas tantangan yang dihadapi APBN di tengah gejolak nilai tukar rupiah. Pemerintah dituntut untuk tetap waspada dan responsif dalam merumuskan kebijakan fiskal demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar