Haluannews Ekonomi – Kinerja cemerlang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selalu menjadi sorotan dan kebanggaan nasional, mengingat perannya vital dalam menggerakkan roda ekonomi dan mengelola sektor strategis demi kemakmuran rakyat. Terlebih, dengan sinergi apik bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang aktif memaksimalkan potensi aset BUMN melalui strategi investasi yang terukur, kontribusi entitas pelat merah ini terhadap perekonomian nasional kian signifikan. Peningkatan kinerja ini tak lepas dari implementasi tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang semakin kokoh.

Related Post
Di bawah naungan dan pengawasan ketat Danantara, BUMN berhasil membukukan performa finansial yang luar biasa sepanjang tahun 2025. Laba bersih konsolidasi mencapai angka fantastis Rp332 triliun, melesat jauh dari capaian Rp89 triliun pada tahun 2024. Lonjakan laba yang signifikan ini, seperti diungkapkan Presiden Prabowo Subianto pada awal tahun, sebagian besar ditopang oleh kinerja gemilang sektor perbankan dan energi. Sebagai contoh, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi salah satu pilar utama dengan kontribusi laba bersih sebesar Rp57,13 triliun.

Peningkatan kinerja yang impresif ini secara langsung merefleksikan kemajuan signifikan dalam implementasi tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di lingkungan BUMN, di bawah arahan strategis BPI Danantara. Meskipun demikian, upaya perbaikan berkelanjutan tetap menjadi agenda prioritas. Toto Pranoto, Managing Partner BUMN Research Group LM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), menjelaskan kepada Haluannews.id pada Minggu (31/5/2026), bahwa GCG mencakup pilar-pilar fundamental seperti transparansi, akuntabilitas, integritas, dan keadilan. "Setiap korporasi BUMN, baik yang telah melantai di bursa maupun yang belum, wajib menginternalisasi dan menjalankan prinsip-prinsip tersebut," tegas Toto. Ia menambahkan, "Danantara secara konsisten memprioritaskan penegakan disiplin GCG di seluruh entitas negara, tanpa terkecuali."
Dengan demikian, peran pengawasan aktif dari Danantara krusial dalam menjaga momentum peningkatan kinerja dan kualitas tata kelola BUMN agar tetap berkelanjutan. Senada dengan pandangan tersebut, Piter Abdullah, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, menekankan bahwa proses perbaikan GCG di BUMN adalah sebuah maraton, bukan sprint. "Perbaikan tata kelola BUMN adalah sebuah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Dampak penuhnya mungkin belum sepenuhnya terlihat saat ini, namun itu bukan indikasi kegagalan. Transformasi fundamental memang memerlukan waktu," ujar Piter.
Sinergi antara pengawasan ketat Danantara dan komitmen BUMN terhadap prinsip-prinsip GCG diharapkan akan terus menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan, memastikan kontribusi maksimal BUMN bagi kemajuan ekonomi bangsa.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar