Haluannews Ekonomi – Pengumuman reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto berdampak signifikan pada pasar saham, khususnya sektor perbankan. Penutupan perdagangan Senin (8/9/2025) mencatat pelemahan kompak di mayoritas emiten perbankan, imbas pergantian lima menteri, termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani yang digantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Related Post
Koreksi paling dalam dialami Bank Tabungan Negara (BBTN) yang anjlok 9,77% ke Rp 1.155 per saham. Bank Syariah Indonesia (BRIS) menyusul dengan penurunan 5,15% ke Rp 2.580 per saham. Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Bank Mandiri (BMRI) juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 4,35% ke Rp 4.180 dan 4,06% ke Rp 4.490 per saham. Bahkan, Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dua bank dengan kapitalisasi pasar terbesar, juga mengalami penurunan signifikan, yakni 3,75% ke Rp 7.700 dan 2,5% ke Rp 3.900 per saham. Hanya Bank Permata (BNLI) yang menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan tipis 0,32% ke Rp 3.170 per saham. Emiten perbankan lainnya seperti Bank CIMB Niaga (BNGA), Bank Maybank Indonesia (BNII), Bank Danamon (BDMN), dan Bank Pan Indonesia (PNBN) juga ikut terkoreksi.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, menjelaskan reshuffle ini didasarkan pada berbagai pertimbangan dan evaluasi Presiden. Kementerian yang mengalami pergantian menteri meliputi Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Kementerian Koperasi, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Peristiwa ini dinilai sebagai faktor utama pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini.
Analis pasar memprediksi dampak reshuffle ini akan terus dipantau investor dalam beberapa hari ke depan. Ketidakpastian politik pasca-reshuffle berpotensi mempengaruhi sentimen pasar dan berdampak pada kinerja saham emiten perbankan.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar