Haluannews Ekonomi – Gejolak pasar keuangan global di awal 2025 semakin tak terkendali. Kebijakan tarif impor tinggi Amerika Serikat, bak bom waktu, memicu perang dagang dan menambah bara ketegangan di Timur Tengah. Situasi ini membuat pasar keuangan dunia bergolak hebat.

Related Post
Sonny Samuel, Direktur Global Market UOB Indonesia, menilai data ekonomi AS yang lesu dan kebijakan tarif "Trump 2.0" semakin menekan pasar. Hal ini berdampak pada arah kebijakan suku bunga The Fed dan meningkatkan volatilitas. Namun, ia optimistis investor masih melihat potensi investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Buktinya, aliran dana masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI) masih kuat, meski terjadi capital outflow di pasar saham.

UOB Indonesia memproyeksikan The Fed dan Bank Indonesia (BI) berpeluang menurunkan suku bunga hingga tiga kali di tahun 2025. Langkah ini dinilai perlu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya tarik SBN bagi investor domestik.
Bagaimana dampak gejolak global terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar Rupiah, dan SBN? Apa pengaruhnya terhadap kebijakan The Fed dan BI Rate? Untuk jawaban lengkapnya, saksikan wawancara Anneke Wijaya dengan Sonny Samuel dalam program Power Lunch Haluannews.id (Senin, 20 Februari 2025).











Tinggalkan komentar