Haluannews Ekonomi – Bisnis rumah sakit di Indonesia kian menggoda para konglomerat. Haluannews.id mencatat setidaknya enam crazy rich Tanah Air yang sukses menguasai sektor ini, bahkan beberapa di antaranya telah membawa bisnis rumah sakitnya ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini artinya, masyarakat tak hanya bisa berobat di rumah sakit milik mereka, tapi juga berinvestasi lewat sahamnya. Sektor ini memang menjanjikan, mengingat ada 11 emiten rumah sakit yang tercatat di bursa. Siapa saja para pemainnya? Simak ulasan berikut:

Related Post
Dato’ Sri Tahir: Bos Grup Mayapada ini, yang juga menempati posisi 14 orang terkaya di Indonesia versi Forbes Juli 2024, mengendalikan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), pengelola Mayapada Hospital. Rumah sakit swasta kelas atas ini, berdiri sejak 1 Juni 2008 setelah mengakuisisi Honoris Hospital, dan bekerjasama dengan National Health Care Group Singapore untuk menghadirkan standar internasional.
Martua Sitorus: Konglomerat perkebunan kelapa sawit ini, lewat putrinya Jacqueline Sitorus, menguasai PT Murni Sadar Tbk (MTMH). Emiten ini mengelola enam rumah sakit, lima di antaranya adalah rumah sakit Murni Teguh dan satu rumah sakit ibu dan anak Rosiva, dengan total kapasitas 858 tempat tidur.
Keluarga Boenjamin Setiawan: Almarhum Boenjamin Setiawan, pendiri Rumah Sakit Mitra Keluarga (berdiri sejak 1989) dan PT Mitra Keluarga Tbk. (MIKA), meninggalkan warisan bisnis rumah sakit yang mengoperasikan 25 rumah sakit. Ia juga merupakan pendiri Kalbe Farma.
Eddy Kusnadi Sariaatmadja: Pemilik PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) ini, lewat PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), mengendalikan jaringan RS Omni yang terdiri dari 8 rumah sakit (6 EMC dan 2 GRHA) dengan kapasitas 1.454 tempat tidur.
Mochtar Riady: Pencetus Grup Lippo ini, melalui Siloam Group (PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO)), membangun kerajaan rumah sakitnya. Awalnya berkolaborasi dengan Gleneagles Singapura, kini Siloam telah berkembang pesat dan tersebar luas di Indonesia.
Keluarga The Ning King: Hungkang Sutedja, anak dari taipan The Ning King, menguasai PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGK) yang memiliki dua rumah sakit, GRHA Kedoya dan GRHA MM2100, bagian dari grup SAME. The Ning King sendiri dikenal sebagai konglomerat dengan bisnis di berbagai sektor, termasuk tekstil dan properti.

Kehadiran para crazy rich ini di sektor kesehatan menunjukkan potensi besar dan daya tarik bisnis rumah sakit di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat menjadi faktor pendorong utama.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar