Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi 2,15% hingga Juni 2025, ditutup di level 6.927,68. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pelemahan saham-saham blue chip dan emiten perbankan besar. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan: apa penyebab utama penurunan IHSG di tengah tahun?

Related Post
Sejumlah faktor internal dan eksternal berkontribusi terhadap pelemahan IHSG. Sentimen negatif global, seperti perang dagang dan ketidakpastian ekonomi global, turut menekan kinerja pasar saham domestik. Pada titik terendah, IHSG sempat terkoreksi hingga 15,71%.

Barito Renewables Energy (BREN) menjadi salah satu penekan utama IHSG, dengan penurunan 36,66% yang menghapus 131 poin indeks. Tiga bank besar, Bank Mandiri (BMRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI), juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan IHSG, masing-masing turun 14,39%, 10,34%, dan 8,33%, dan menghapus 73, 65, dan 52 poin indeks.
Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, menilai kinerja keuangan perbankan yang kurang optimal, ditandai dengan stagnasi atau penurunan kualitas kredit dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, menjadi faktor utama penurunan saham perbankan blue chip. Arus modal asing yang keluar dari Indonesia juga memperparah situasi.
Meskipun demikian, Panin AM memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 7.400 pada akhir tahun, dengan catatan kinerja keuangan dua kuartal berikutnya membaik. Kebijakan fiskal dan moneter pemerintah, serta potensi penurunan suku bunga, diharapkan dapat menjadi sentimen positif. Namun, Rudiyanto menekankan pentingnya dukungan makro ekonomi internal agar kenaikan IHSG berkelanjutan.
Nafan Aji Gusta, Ekonom Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan yang masih satu digit menjadi tantangan. Namun, pelonggaran moneter dari Bank Indonesia diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan mendorong ekspansi kredit. Perbaikan harga komoditas di semester kedua juga memberikan optimisme.
Emiten lain yang turut membebani IHSG antara lain GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), Pantai Indah Kapuk Dua (PANI), Astra International (ASII), United Tractors (UNTR), dan Adaro Resources Indonesia (ADRO). IHSG saat ini berupaya untuk kembali ke rekor tertinggi 7.905,39 yang dicapai pada September 2024.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar