Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan terakhir pekan ini dengan tekanan signifikan, menunjukkan pelemahan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (30/4/2026). Berdasarkan data dari Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, mata uang Garuda dibuka di zona merah, terdepresiasi sebesar 0,38% dan menyentuh level Rp17.340 per dolar AS.

Related Post
Perdagangan hari ini menjadi penutup aktivitas pasar keuangan domestik sebelum libur panjang Hari Buruh Internasional pada Jumat (1/5/2026). Pelemahan rupiah pada pembukaan ini bukan tanpa preseden, melainkan melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya. Pada Rabu (29/4/2026), rupiah juga ditutup melemah 0,38% di posisi Rp17.275 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau stabil di level 98,886 pada pukul 09.00 WIB. Meskipun demikian, pada penutupan perdagangan sebelumnya, DXY sempat menguat 0,33% ke level 98,961, mengindikasikan dominasi dolar AS di pasar global.
Pergerakan rupiah pada hari ini dan prospek ke depan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama dinamika kebijakan moneter AS dan ketegangan geopolitik. Dolar AS terus menunjukkan kekuatannya, bergerak di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir. Hal ini didorong oleh sinyal yang semakin hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), yang turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam sekitar satu bulan.
Keputusan The Fed di bawah kepemimpinan Ketua Jerome Powell untuk mempertahankan suku bunga acuan, meskipun di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat, menjadi sorotan utama. Keputusan ini terbilang sangat terbelah, dengan hasil pemungutan suara 8 berbanding 4, menjadikannya keputusan paling terpecah sejak tahun 1992. Bahkan, tiga pejabat menolak panduan bahwa bank sentral masih memiliki kecenderungan untuk melonggarkan kebijakan.
Implikasinya, ekspektasi pemangkasan suku bunga AS pada tahun ini semakin memudar. Pelaku pasar kini bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada April 2027, dengan probabilitas sekitar 55%. Angka ini melonjak tajam dari kisaran 20% sebelum keputusan The Fed diumumkan. Kondisi ini secara signifikan membatasi ruang penguatan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Ketika prospek suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, daya tarik dolar AS di mata investor global cenderung tetap kuat.
Selain faktor The Fed, pasar juga masih mencermati perkembangan kebuntuan diplomatik dalam penyelesaian konflik Iran. Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan tengah membahas langkah-langkah untuk meredam dampak dari kemungkinan blokade pelabuhan Iran selama berbulan-bulan bersama perusahaan-perusahaan minyak besar. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak global karena kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah yang dapat berlangsung lebih lama. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik ini, investor cenderung mencari aset lindung nilai, dan dolar AS menjadi pilihan utama.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar