Rahasia Dibalik Keengganan Bank Turunkan Bunga Kredit!

Rahasia Dibalik Keengganan Bank Turunkan Bunga Kredit!

Haluannews Ekonomi – Bank Indonesia (BI) kembali mendesak industri perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. BI Rate sudah empat kali diturunkan tahun ini, namun suku bunga kredit masih bertahan di angka 9,16% per Juli 2025, hanya sedikit turun dari 9,20% di awal tahun. Hal ini memicu pertanyaan, mengapa bank enggan menurunkan bunga kredit meskipun BI Rate sudah turun?

COLLABMEDIANET

Jawabannya, menurut sejumlah bankir yang dihubungi Haluannews.id, terletak pada beberapa faktor kunci. Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa penurunan suku bunga kredit tak bisa langsung mengikuti penurunan BI Rate. Penurunan bunga kredit, menurutnya, lebih bergantung pada penurunan cost of fund (CoF). Ia menambahkan, penurunan BI Rate diharapkan dapat menurunkan suku bunga dana pihak ketiga (DPK), sehingga CoF dapat turun dan selanjutnya bunga kredit dapat diturunkan secara bertahap. "Selama kenaikan CoF, bunga kredit relatif tidak naik. Terlihat dari tergerusnya margin atau NIM (margin bunga bersih) perbankan," ujar Lani.

Rahasia Dibalik Keengganan Bank Turunkan Bunga Kredit!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Senada dengan Lani, Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menyatakan penurunan bunga kredit harus didahului oleh penurunan bunga deposito. "Penurunan suku bunga kredit akan mengikuti penurunan suku bunga deposito dulu. Kami sendiri sudah mulai menurunkan suku bunga deposito secara bertahap agar nanti bisa mulai menurunkan suku bunga kredit," jelasnya.

Direktur Kepatuhan OK Bank juga menambahkan pertimbangan CoF dalam penurunan bunga kredit. "Jika penurunan BI Rate juga diikuti penurunan CoF, maka bunga kredit juga akan turun. Penurunan suku bunga oleh Bank tentunya akan memperhatikan kondisi internal bank serta kesehatan portofolio kredit," tambahnya. Selain CoF, ia juga mempertimbangkan likuiditas, risiko kredit, dan profit margin (NIM).

Risiko kredit, menurut Direktur Risiko, Legal, dan Kepatuhan Allo Bank, Ganda Raharja Rusli, selalu menjadi pertimbangan utama perbankan. "Pertimbangan risiko kredit akan selalu ada dan bank akan selalu menghitung risiko dan memasukkannya menjadi salah satu komponen perhitungan suku bunga kredit (risk based pricing)," ungkap Ganda.

Wakil Direktur Bank INA Perdana, Yulius Purnama Junaedi, menambahkan bahwa setiap bank memiliki kebijakan bunga kredit masing-masing yang mempertimbangkan risiko kredit. Kondisi ini membuat bank-bank cenderung saling menunggu, seperti yang diungkapkan Yulius, "Saat ini kami masih pantau pergerakan suku bunga di pasar. Mengingat kami bukan merupakan bank besar maka kami masih menjadi follower dan saat ini dalam posisi wait and see perkembangan yang ada." Allo Bank pun mengambil sikap serupa, masih mengkaji respons pasar terhadap penurunan BI Rate.

Pertumbuhan kredit pun ikut melambat, menjadi 7,03% secara tahunan (yoy) per Juli 2025, jauh dari target BI sebesar 8% hingga 11% pada akhir tahun. Sementara itu, suku bunga kredit justru naik 17 basis poin (bps) menjadi 9,79%, didorong oleh kenaikan pada kelompok bank umum swasta nasional (BUSN). Lani menjelaskan, hal ini mungkin terjadi pada bank-bank dengan komposisi kredit yang didominasi oleh kredit ritel dan UMKM yang memberikan yield lebih tinggi.

Kondisi ini menunjukkan kompleksitas dalam menurunkan suku bunga kredit, yang melibatkan berbagai faktor internal dan eksternal bank.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar