haluannews.id – Pemerintah Indonesia baru-baru ini meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK), sebuah langkah strategis yang langsung menarik perhatian investor global. Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Iklim, mengungkapkan bahwa pasar karbon di Tanah Air kini menjadi magnet kuat bagi para pemodal asing. Pernyataan ini disampaikan Hashim di Djakarta Theater Jakarta pada Kamis (9/7/2026), menandai babak baru dalam pengembangan ekonomi hijau Indonesia.

Related Post
Hashim menjelaskan, minat besar dari komunitas internasional terhadap pasar karbon Indonesia bukanlah hal baru. Ia menyebutkan bahwa penantian panjang para investor telah berlangsung sejak Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP21) di Paris pada November 2025. Dengan hadirnya SRUK, penantian tersebut kini terjawab, membuka peluang besar untuk meningkatkan geliat sektor keuangan dan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

Menurut Hashim, para investor yang menyatakan ketertarikan datang dari berbagai belahan dunia. "Banyak sekali, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Belanda, hingga Jepang," ujarnya, menunjukkan bahwa pasar karbon Indonesia menjadi incaran serius bagi negara-negara maju di Asia dan Eropa. Ini merupakan indikasi kuat atas kepercayaan global terhadap potensi dan komitmen Indonesia dalam pengelolaan emisi karbon.
Meskipun belum ada estimasi pasti mengenai total nilai investasi yang akan mengalir, Hashim optimis bahwa potensi yang ada sangat menjanjikan. Ia memperkirakan bahwa jika semua minat tersebut terealisasi, nilai investasi di pasar karbon Indonesia dapat mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat. Angka fantastis ini diharapkan akan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian nasional dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam transisi menuju ekonomi berkelanjutan.










Tinggalkan komentar