Haluannews Ekonomi – Raksasa media sosial Pinterest Inc. baru-baru ini mengumumkan peningkatan pendapatan yang signifikan pada kuartal III-2025. Namun, ironisnya, kabar baik ini justru memicu aksi jual besar-besaran yang mengakibatkan saham perusahaan anjlok hingga 21%.

Related Post
Menurut laporan The Wall Street Journal, Pinterest memproyeksikan pendapatan antara US$1,31 miliar hingga US$1,34 miliar (sekitar Rp21,6 triliun hingga Rp22,1 triliun dengan kurs Rp16.500/US$). Angka ini mencerminkan pertumbuhan yang melambat, yaitu sekitar 14% hingga 16% secara kuartalan, dibandingkan dengan hampir 17% pada dua kuartal sebelumnya. Proyeksi ini menandai laju pertumbuhan paling lambat sejak tahun 2023.

Penurunan tajam saham Pinterest terjadi setelah laba kuartal III perusahaan tidak memenuhi ekspektasi analis Wall Street. Penawaran harga iklan oleh Pinterest juga mengalami penurunan sebesar 24% pada kuartal ketiga, yang menurut Direktur Keuangan Julia Donnelly, disebabkan oleh "tekanan margin terkait tarif" yang dihadapi oleh para peritel di AS.
Meskipun demikian, Pinterest berhasil membukukan laba sebesar US$92,1 juta atau Rp1,52 triliun, setara 13 sen per saham, pada kuartal yang berakhir 30 September 2025. Angka ini meningkat signifikan dari US$30,6 juta atau Rp504,9 miliar, setara 4 sen per saham pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan Pinterest juga mengalami kenaikan sebesar 17% menjadi US$1,05 miliar atau sekitar Rp17,3 triliun, sejalan dengan ekspektasi analis. Jumlah pengguna aktif bulanan juga meningkat 12% menjadi 600 juta pengguna, melampaui perkiraan sekitar 10 juta pengguna.
Pinterest terus berinvestasi dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan pengalaman pengguna dalam mencari dan membeli produk dari foto yang mereka simpan. Upaya ini terbukti efektif dalam menarik lebih banyak pengiklan yang ingin memanfaatkan Pinterest sebagai platform untuk meningkatkan penjualan.
Chief Executive Officer Bill Ready menyatakan bahwa perusahaan telah berhasil mentransformasi platformnya menjadi asisten belanja berbasis AI bagi 600 juta pelanggan. Namun, sentimen pasar tampaknya lebih fokus pada perlambatan pertumbuhan yang diproyeksikan dan tekanan margin yang dihadapi oleh pengiklan, sehingga memicu aksi jual yang signifikan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar