haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil mengakhiri perdagangan Rabu 23 September dengan performa positif membukukan penguatan 156 persen dan ditutup pada level 637491. Kinerja cemerlang indeks ini tak lepas dari kontribusi signifikan saham saham unggulan seperti BBCA yang melesat 161 persen DSSA dengan kenaikan fantastis 918 persen dan BYAN yang menguat 380 persen. Sebaliknya beberapa saham seperti TLKM anjlok 121 persen KPIG terperosok 1406 persen dan ASII terkoreksi 063 persen menjadi penahan laju indeks.

Related Post
Di tengah optimisme pasar domestik investor asing justru mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp46826 miliar di pasar reguler dan total Rp46135 miliar di seluruh pasar. Meskipun demikian seluruh 11 sektor industri berhasil ditutup di zona hijau dengan sektor Basic Industry memimpin penguatan tertinggi sebesar 347 persen. Sentimen positif terhadap revisi formula Harga Patokan Mineral HPM limonit yang berpotensi memengaruhi ekonomi smelter HPAL turut menjadi pendorong utama sektor material dasar. Sementara itu di bursa Amerika Serikat indeks Dow Jones S&P 500 dan Nasdaq kompak melemah.

Dari ranah aksi korporasi PT Jababeka Tbk KIJA terus memperkuat komitmennya terhadap energi hijau. Perseroan melanjutkan kerja sama strategis dengan Pertamina Persero untuk pengembangan energi terbarukan di Kawasan Industri Jababeka. Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang sebelumnya terjalin dalam B20 Summit dan World Economic Forum G20 pada tahun 2022. Ruang lingkup kerja sama mencakup pemanfaatan gas pipa biometana bersertifikat ISCC panel surya Battery Energy Storage System BESS kredit karbon hingga pengolahan limbah menjadi energi. Jababeka juga tengah menjajaki pemanfaatan hidrogen hijau guna mendukung transportasi rendah karbon dalam konsep Transit Oriented Development TOD. Menjelang tahun 2027 fokus pengembangan akan diarahkan pada hidrogen biometana dan potensi panas bumi sebagai bagian dari inisiatif Net Zero Industrial Cluster Community NZICC di kawasan yang kini dihuni sekitar 2000 perusahaan multinasional dari 36 negara.
Sementara itu PT Bukit Uluwatu Villa Tbk BUVA memperluas jejaknya di sektor hiburan dan gaya hidup Bali. Perseroan melakukan investasi pada Kharisma Jawara Abadi KJA sebagai entitas asosiasi dengan kepemilikan efektif 1627 persen. KJA sendiri menguasai 5836 persen KAJA Group pengembang destinasi hiburan Zumana di Kuta sehingga kepemilikan efektif BUVA atas Zumana mencapai sekitar 950 persen. Zumana yang berdiri di atas lahan seluas 3500 meter persegi di Sunset Bay Kuta dikembangkan bersama Savaya Group dan dirancang oleh Rockwell Group. Investasi ini menandai pergeseran model bisnis BUVA dari akomodasi semata menuju segmen beach club F&B dan hiburan dengan karakter pendapatan harian. Ekspansi ini terjadi di tengah pesatnya pertumbuhan pariwisata Bali dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang terus meningkat. Kontribusi finansial dari investasi ini terhadap kinerja BUVA diperkirakan baru akan terlihat pada paruh kedua tahun 2026 melalui bagian laba entitas asosiasi bukan pendapatan konsolidasi.
Di sisi lain PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk BIPP berencana melakukan private placement dengan menerbitkan maksimal 50287 juta saham baru seri B setara 10 persen dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp100 per saham aksi korporasi ini berpotensi menghimpun dana sekitar Rp5029 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan serta memenuhi kebutuhan pendanaan dan modal kerja perseroan maupun entitas anak. Berdasarkan proforma semester I 2026 total ekuitas diproyeksikan meningkat 527 persen menjadi Rp1 triliun sementara total aset naik 274 persen menjadi Rp188 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas juga diproyeksikan membaik dari 092 kali menjadi 087 kali. Namun pemegang saham eksisting berpotensi mengalami dilusi sekitar 909 persen dengan kepemilikan Safire Capital Pte Ltd selaku pengendali turun dari 6162 persen menjadi 5602 persen. Rencana aksi korporasi ini masih menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Independen RUPS yang dijadwalkan pada 25 September.
Disclaimer: Ingat bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.










Tinggalkan komentar