haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan hebat pada penutupan perdagangan sesi kedua, Selasa (27/10/2026). Indeks yang sebelumnya sempat bertahan, tiba-tiba merosot tajam hingga menyentuh angka pelemahan 3 persen menjelang bel penutupan pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar domestik mengingat kecepatan penurunan yang terjadi dalam waktu singkat.

Related Post
Berdasarkan pantauan data perdagangan pada pukul 15.00 WIB, IHSG terpangkas sebesar 161,81 poin atau setara dengan 3,01 persen, sehingga berada di level 5.211,28. Fenomena "longsor" ini mulai terasa sangat intens sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kurun waktu hanya satu jam, indeks yang semula berada di area 5.350 langsung terjun bebas menembus level 5.225. Bahkan, IHSG sempat menyentuh titik nadir harian di level 5.210,29. Upaya pemulihan singkat (rebound) ke kisaran 5.275-5.300 terbukti gagal membendung gelombang tekanan jual yang masif.

Aktivitas transaksi hari ini tercatat sangat padat dengan volume mencapai 248,57 juta lot dan nilai transaksi menembus angka Rp10,08 triliun. Penurunan indeks ini dipicu oleh sektor-sektor utama yang mengalami koreksi dalam. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terdampak dengan anjlok hingga 6 persen, disusul oleh sektor material dasar yang turun 3,5 persen, serta sektor teknologi yang melemah 2,9 persen.
Menanggapi situasi ini, analis pasar modal menyoroti adanya kombinasi sentimen negatif yang datang dari berbagai arah. Selain faktor teknikal seperti aksi ambil untung (profit taking) dan mekanisme cut loss otomatis, faktor makroekonomi global turut memperkeruh suasana. Tekanan jual yang agresif dari investor asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar menjadi motor utama yang menyeret indeks ke zona merah.
Selain itu, ketidakpastian mengenai evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia turut memberikan tekanan psikologis. Investor cenderung mengambil sikap menunggu (wait and see) di tengah isu penurunan status pasar Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level terendahnya, serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang melonjak ke level 7,52 persen—angka tertinggi sejak akhir 2022.
Riset dari Indo Premier Sekuritas (IPOT) menambahkan bahwa kenaikan harga minyak dunia juga menjadi ancaman, karena berpotensi memperlebar beban subsidi energi dan menekan fiskal negara. Meskipun investor asing masih mencatatkan pembelian bersih pada obligasi pemerintah, sentimen negatif di pasar saham tetap mendominasi. Pelemahan IHSG kali ini bukan sekadar koreksi teknis, melainkan mencerminkan meningkatnya persepsi risiko dan melandainya kepercayaan investor terhadap stabilitas pasar modal domestik saat ini.










Tinggalkan komentar