Haluannews Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons serius sinyalemen Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait maraknya praktik "saham gorengan" di pasar modal Indonesia. Langkah tegas akan diambil untuk menjaga integritas pasar dan melindungi investor.

Related Post
Menindaklanjuti arahan Menkeu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengawasan dan deteksi dini terhadap aktivitas mencurigakan di pasar modal. Hal ini disampaikan dalam Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2025 di Jakarta.

OJK akan meningkatkan sinergi dengan Self-Regulatory Organization (SRO) dan pelaku pasar modal, serta mempererat koordinasi dengan aparat penegak hukum. Tujuannya adalah untuk memastikan penegakan disiplin pasar, memberantas praktik manipulatif, dan memberikan perlindungan optimal bagi investor.
Selain penindakan, OJK juga akan memperluas program literasi keuangan kepada masyarakat. Investor diharapkan memahami risiko investasi dan tidak hanya tergiur keuntungan cepat. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan investor yang cerdas dan bertanggung jawab.
Di tengah upaya pembenahan, kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan tren positif. Hingga 16 Oktober 2025, IHSG berada di level 8.124, tumbuh 14,76% year-to-date (ytd). Kapitalisasi pasar saham mencapai Rp15.227 triliun, setara dengan 68,78% dari PDB. OJK juga mencatat penerbitan 161 pernyataan efektif atas emisi efek dengan total nilai penghimpunan dana sebesar Rp189,6 triliun.
Jumlah investor di pasar modal juga terus meningkat, mencapai hampir 19 juta Single Investor Identification (SID) per 15 Oktober 2025. Angka ini mendekati target roadmap OJK, yaitu 20 juta SID pada tahun 2027.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya menegur jajaran direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait masih banyaknya saham gorengan di pasar modal. Purbaya memberikan syarat kepada BEI untuk membereskan masalah ini sebelum memberikan insentif yang mereka minta.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar