haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG menutup perdagangan akhir pekan dengan catatan merah pekat. Pasar modal domestik terpaksa tumbang 51,54 poin atau setara 0,82 persen, mengakhiri sesi di level 6.247,07. Kondisi ini mencerminkan sentimen negatif yang kuat di kalangan investor menjelang penutupan pekan.

Related Post
Aktivitas perdagangan hari itu menunjukkan peningkatan volume yang signifikan, mencapai 23,93 miliar saham. Total lot yang berpindah tangan tercatat sebanyak 239,26 juta lot, dengan nilai transaksi yang fantastis menembus angka Rp8.139,288 triliun. Meskipun volume transaksi tinggi, dominasi aksi jual tak terhindarkan, terlihat dari 587 saham yang melemah, berbanding jauh dengan hanya 122 saham yang menguat, sementara 254 saham lainnya stagnan.

Pelemahan IHSG kali ini utamanya diseret oleh performa buruk beberapa sektor kunci. Sektor layanan akademik dan pendidikan menjadi yang paling terpukul dengan anjlok 10,26 persen. Disusul kemudian oleh sektor industri yang merosot 1,9 persen, serta sektor real estate yang turut terkoreksi 1,4 persen.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya dari sektor perbankan, menjadi pemberat utama yang membuat IHSG terjerembab. Di antaranya adalah PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI, PT Bank Central Asia Tbk BBCA, dan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk BBRI. Selain itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk AMMN dan PT Barito Pacific Tbk BRPT juga turut menyumbang tekanan signifikan. Di sisi lain, beberapa saham mencoba menahan laju koreksi, seperti PT Fortune Indonesia Tbk FORU, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA, PT Energi Mega Persada Tbk ENRG, PT Astra International Tbk ASII, dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk DSNG.
Menjelang penutupan pekan, pelaku pasar dihadapkan pada beragam sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari kancah domestik, perhatian tertuju pada dinamika pertumbuhan uang beredar, strategi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, serta hasil pembahasan mengenai kondisi ekonomi nasional dan proyeksi postur APBN 2027.
Sementara itu, dari ranah global, pergerakan nilai tukar dolar AS, imbal hasil obligasi Treasury AS, harga minyak mentah dunia, dan eskalasi konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor penentu yang dicermati investor. Kekhawatiran global semakin diperkuat oleh pernyataan dua pejabat Federal Reserve The Fed. Presiden Philadelphia Fed Anna Paulson secara terbuka menyebut inflasi masih "membandel" dan tidak menutup kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan. Senada, Presiden New York Fed John Williams menganggap kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026 adalah langkah yang masuk akal.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, menempatkannya pada rentang 3,75 persen hingga 4,00 persen. Data inflasi PCE AS yang mencapai 3,7 persen pada Juli, jauh di atas target 2 persen The Fed, menjadi alasan utama di balik sikap hawkish ini.
Kondisi pasar obligasi AS juga memanas. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun pada Kamis 24 September 2026, memperpanjang aksi jual obligasi global. Imbal hasil Treasury 30 tahun menembus 5,48 persen, level tertinggi sejak 2004, sementara tenor 10 tahun mencapai 5,20 persen. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran akan harga energi yang tinggi, ekonomi AS yang tetap tangguh, inflasi yang sulit dikendalikan, serta peningkatan belanja pemerintah yang berpotensi mempertahankan inflasi lebih lama.
Investor kini mulai mencermati level 6 persen pada imbal hasil Treasury 10 tahun sebagai ambang batas yang berpotensi memicu tekanan serius pada pasar keuangan dan korporasi AS. Kenaikan imbal hasil ini juga berdampak langsung pada masyarakat, membuat biaya pinjaman semakin mahal. Sebagai contoh, suku bunga KPR 30 tahun di AS kini mencapai sekitar 7 persen, atau satu poin persentase lebih tinggi dibandingkan periode sebelum konflik Iran. Tekanan serupa juga melanda pasar obligasi global, di mana negara-negara ekonomi terbesar di dunia menghadapi beban pembayaran bunga yang kian membengkak di tengah lonjakan kebutuhan belanja pemerintah.
Di tengah gejolak tersebut, bursa saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada perdagangan Jumat 25 September 2026. Pergerakan ini sebagian besar dipengaruhi oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Indeks Nikkei 225 Jepang berhasil menguat 0,25 persen dan Topix naik 0,40 persen, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia justru melemah 0,48 persen.










Tinggalkan komentar