Haluannews Ekonomi – Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Kamis (21/5/2026), mengambil langkah proaktif dengan menjadwalkan pertemuan krusial bersama salah satu emiten yang teridentifikasi memiliki High Shareholding Concentration (HSC). Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengonfirmasi bahwa agenda utama diskusi ini adalah mengkaji strategi efektif untuk mendistribusikan kepemilikan saham lebih luas kepada publik, sebuah upaya yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan inklusivitas pasar modal. Informasi ini disampaikan oleh Jeffrey di Gedung BEI, seperti dilansir Haluannews.id.

Related Post
Jeffrey menggarisbawahi bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen bursa untuk mendorong transparansi dan pemerataan kepemilikan saham. "Kami ingin berdiskusi mengenai upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk mendistribusikan kepemilikan saham kepada publik lebih luas," jelas Jeffrey, tanpa merinci lebih lanjut identitas emiten yang hadir. Otoritas bursa memilih untuk tidak membeberkan nama emiten tersebut, menyerahkan sepenuhnya keputusan pengungkapan kepada pihak emiten. Sepanjang pekan ini, hanya satu emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tinggi yang dijadwalkan untuk berdialog dengan BEI.

Fenomena High Shareholding Concentration (HSC) merujuk pada kondisi di mana mayoritas saham suatu emiten dikuasai oleh segelintir pemegang saham, seringkali entitas pengendali atau grup konglomerat. Kondisi ini dapat berimplikasi pada likuiditas saham di pasar sekunder. Sebagai pengingat, beberapa emiten terkemuka yang masuk dalam daftar HSC mencakup PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dengan konsentrasi kepemilikan mencapai 97,31%, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang memiliki tingkat konsentrasi 95,76%. BREN dikenal sebagai salah satu pilar bisnis konglomerat Prajogo Pangestu, sedangkan DSSA merupakan bagian integral dari Sinar Mas Grup.
Data dari BEI dan KSEI per 2 April 2026 lebih lanjut mengidentifikasi sejumlah emiten lain yang juga tergolong dalam kategori HSC. Daftar tersebut meliputi PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) dengan konsentrasi 95,35%, PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang mencatat angka fantastis 99,85%, serta PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) sebesar 95,94%. Tidak ketinggalan, ada PT Ifishdeco Tbk (IFSH) dengan 99,77%, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) sebesar 98,35%, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) sebesar 97,75%, PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) sebesar 95,82%, dan PT Lima Dua Lima Tbk (LUCY) dengan tingkat konsentrasi 95,47%.
Langkah proaktif BEI dalam menjalin dialog dengan emiten HSC ini menandai komitmen otoritas pasar untuk menciptakan pasar modal yang lebih sehat, likuid, dan inklusif. Hasil dari pertemuan ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan saham emiten-emiten tersebut di masa mendatang.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar