haluannews.id – Pasar minyak global kembali menampilkan fenomena tak terduga awal pekan ini. Harga komoditas energi vital tersebut justru menunjukkan penguatan tipis pada Senin pagi (6/7), kendati aliansi produsen minyak utama OPEC+ telah mengumumkan rencana peningkatan target produksi mulai Agustus. Minyak jenis Brent tercatat naik 0,17% menjadi US$72,24 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,45% mencapai US$69,00 per barel.

Related Post
Kondisi ini terbilang unik, mengingat prospek pasokan global yang seharusnya bertambah. Aliansi produsen minyak OPEC+ sendiri, dalam pertemuan terbarunya pada Minggu (5/7), telah menyepakati penambahan target produksi sebesar 188 ribu barel per hari (bph) yang akan berlaku mulai Agustus. Keputusan ini melanjutkan pola kenaikan serupa yang telah diterapkan pada Juni dan Juli sebelumnya, menambah potensi suplai ke pasar.

Namun, di balik keputusan penambahan produksi tersebut, pasar tampaknya belum sepenuhnya terbanjiri. Selama beberapa minggu terakhir, produksi dari sejumlah negara di kawasan Teluk masih dalam tahap pemulihan pasca-konflik Iran-Israel yang sempat mengganggu aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Gangguan tersebut sebelumnya membatasi ekspor dari produsen-produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait, menyebabkan realisasi produksi mereka masih di bawah kuota yang ditetapkan.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, berpendapat bahwa keputusan OPEC+ pada dasarnya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Ia menambahkan, keluarnya Uni Emirat Arab dari OPEC, ditambah dengan proses normalisasi produksi pasca-konflik, membuat dampak dari kenaikan kuota produksi ini dinilai belum terlalu signifikan terhadap pasokan riil dalam waktu dekat.
Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, produksi minyak OPEC pada Juni melonjak sekitar 3,3 juta barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya, mencapai 19,43 juta barel per hari. Angka ini menandai pemulihan dari level terendah dalam lebih dari dua dekade. Ekspor minyak dari negara-negara Teluk juga meningkat lebih dari 3 juta barel dibandingkan Mei, melampaui 10 juta barel per hari, meskipun volumenya masih sekitar 40% di bawah tingkat sebelum konflik.
Selain dari Timur Tengah, pasokan dari Rusia juga menjadi sorotan pasar. Pengiriman minyak mentah dari pelabuhan-pelabuhan Rusia di wilayah barat mencapai rekor tertinggi pada Juni dan diperkirakan akan bertahan pada level tersebut sepanjang Juli. Peningkatan ekspor ini terjadi setelah serangkaian serangan drone Ukraina merusak sejumlah kilang Rusia, sehingga lebih banyak minyak mentah dialihkan untuk tujuan ekspor.
Dengan mulai pulihnya ekspor dari kawasan Teluk, ditambah kenaikan target produksi OPEC+, serta derasnya ekspor dari Rusia, kini pasar mulai menilai risiko kekurangan pasokan global semakin mereda. Faktor-faktor ini menjadi penyeimbang di tengah masih berlangsungnya upaya pemulihan aktivitas pengiriman energi di kawasan Timur Tengah.
haluannews.id Research










Tinggalkan komentar