haluannews.id – Mata uang Garuda rupiah digadang-gadang memiliki potensi besar untuk menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Namun, para ekonom perbankan menegaskan bahwa capaian ini tidak datang begitu saja, melainkan harus memenuhi serangkaian prasyarat krusial.

Related Post
Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, melihat skenario penguatan rupiah menuju Rp17.500 dalam waktu dekat sebagai sesuatu yang cukup realistis. Posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS membuat jarak menuju target tersebut terasa tidak terlalu jauh, ditambah lagi dengan fundamental ekonomi yang masih menyisakan ruang untuk penguatan. "Rupiah mencapai Rp17.500-an dalam waktu dekat menurut saya cukup realistis. Jaraknya dari Rp17.600-an relatif kecil dan secara fundamental masih terdapat ruang penguatan," ungkap Josua kepada haluannews.id, beberapa waktu lalu.

Untuk mewujudkan target tersebut, Josua menjabarkan empat kondisi utama yang wajib terpenuhi. Pertama, aliran modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) harus terus berlanjut tanpa henti. Kedua, dolar AS tidak boleh kembali menunjukkan penguatan tajam yang bisa menekan mata uang lainnya. Ketiga, harga minyak dunia perlu menjaga stabilitasnya dan menghindari lonjakan drastis. Terakhir, pasar harus tetap memercayai kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas tanpa perlu menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut.
Josua memperkirakan bahwa level Rp17.500 hingga Rp17.550 dapat diuji dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika arus dana asing yang masuk ke SBN semakin besar dan tidak hanya bergantung pada SRBI.
Meski demikian, Josua mengingatkan agar level Rp17.500 belum dianggap sebagai titik keseimbangan baru. Ketidakpastian global yang masih membayangi, seperti harga minyak yang belum menemukan titik stabilnya dan berpotensi kembali melonjak, bisa saja membuat rupiah kembali melemah. "Jika harga minyak kembali meningkat atau pasar kembali memperkirakan kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif, rupiah dapat dengan cepat kembali ke Rp17.700-Rp17.900," jelasnya.
Oleh karena itu, kemampuan rupiah untuk bertahan di bawah Rp17.500 memerlukan perbaikan yang lebih signifikan pada transaksi berjalan serta pasokan devisa domestik yang lebih kuat.
Di sisi lain, David E. Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), justru melihat potensi rupiah kembali ke level Rp16.000 per dolar AS, khususnya pada kuartal ketiga tahun 2026. Pandangan ini didasari oleh proyeksi neraca berjalan Indonesia yang masih berpotensi tertekan akibat harga minyak yang relatif tinggi, di samping pergerakan aset finansial yang cenderung dinamis.
Namun, untuk proyeksi akhir tahun 2026, David menempatkan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS. Proyeksi ini mempertimbangkan asumsi bahwa Bank Sentral AS atau The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga acuannya setidaknya satu kali lagi, mengingat risiko inflasi yang masih membayangi perekonomian Amerika Serikat.










Tinggalkan komentar