Mengejutkan! SUPR Delisting, Djarum Siapkan Harga Fantastis Rp45.000!

Haluannews Ekonomi – PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), emiten menara telekomunikasi yang kini berada di bawah kendali Grup Djarum, mengumumkan rencana untuk mengubah statusnya menjadi perusahaan tertutup dan menghapus pencatatan sahamnya dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Keputusan ini menandai babak akhir perjalanan SUPR di pasar modal, yang sebelumnya telah melalui serangkaian aksi korporasi signifikan, termasuk penawaran umum perdana (IPO) hingga akuisisi oleh raksasa bisnis Tanah Air.

COLLABMEDIANET

Perjalanan SUPR di bursa dimulai pada tahun 2011 melalui penawaran umum saham perdana (IPO) dengan harga Rp3.400 per saham. Kala itu, perseroan menawarkan 100 juta saham atau setara 16,7% dari modal disetor, berhasil mengumpulkan dana segar sebesar Rp340 miliar. Dana tersebut dialokasikan secara strategis: 50% untuk ekspansi via akuisisi menara telekomunikasi, 35% untuk pembangunan menara baru, dan sisanya 15% untuk modal kerja. Langkah ini bertujuan memperkuat posisinya sebagai penyedia menara telekomunikasi independen di Indonesia.

Mengejutkan! SUPR Delisting, Djarum Siapkan Harga Fantastis Rp45.000!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Titik balik signifikan terjadi pada tahun 2021, ketika PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), entitas bagian dari Grup Djarum, secara resmi mengakuisisi 94,03% saham SUPR. Akuisisi jumbo ini dilakukan melalui anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), dengan nilai transaksi mencapai Rp16,73 triliun. Transaksi yang rampung pada 1 Oktober 2021 itu mengejutkan pasar dengan harga Rp15.640 per saham, jauh di atas harga tertinggi saham SUPR pada September yang kala itu Rp14.000. Manajemen TOWR kala itu menegaskan, akuisisi ini krusial untuk memperluas jaringan usaha dan memantapkan dominasi Protelindo di sektor menara independen Indonesia.

Sinergi ini tak hanya melengkapi portofolio aset Protelindo, tetapi juga semakin mengukuhkan cengkeraman Grup Djarum dalam bisnis infrastruktur telekomunikasi di Tanah Air. Sebagai informasi, Grup Djarum yang dikendalikan oleh konglomerat Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, merupakan salah satu imperium bisnis terbesar di Indonesia, dengan kepemilikan di berbagai sektor mulai dari perbankan (PT Bank Central Asia Tbk/BBCA), ritel (Ranch Market, Blibli), hingga infrastruktur (TOWR).

Kini, SUPR bersiap untuk menutup lembaran di bursa dengan rencana go private dan delisting. Manajemen mengungkapkan, keputusan ini didasari oleh ketidakmampuan perseroan memenuhi ketentuan minimum free float sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 45/2024 dan Peraturan BEI No. I-A. Meskipun telah berupaya, pemenuhan ketentuan tersebut dinilai sulit tercapai dalam masa transisi yang ada. Setelah evaluasi mendalam terhadap strategi bisnis jangka panjang, perseroan meyakini langkah go private dan delisting akan meningkatkan efisiensi pengelolaan aset dan operasional melalui restrukturisasi kepemilikan saham.

Sebagai bagian dari proses delisting, Protelindo akan mengajukan penawaran pembelian kembali saham kepada pemegang saham publik. Harga yang ditawarkan tidak main-main, mencapai Rp45.000 per saham. Angka ini jauh lebih tinggi dari rata-rata harga tertinggi harian saham SUPR selama 12 bulan terakhir yang tercatat sebesar Rp42.295 per saham. Penawaran premium ini diharapkan dapat memberikan nilai optimal bagi investor publik yang akan melepas kepemilikan sahamnya, sebelum SUPR resmi angkat kaki dari lantai bursa.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar