Gawat IHSG Ambles Lebih 2 Persen Investor Panik

Gawat IHSG Ambles Lebih 2 Persen Investor Panik

haluannews.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) dilanda kepanikan pada Jumat (26/6/2026) pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka perkasa, mendadak berbalik arah dan terjun bebas lebih dari 2%. Aksi jual masif mewarnai lantai bursa, menyeret mayoritas saham ke zona merah pekat.

COLLABMEDIANET

Hingga pukul 10.23 WIB, IHSG tercatat anjlok 2,18% atau setara 130,53 poin, parkir di level 5.868,50. Sepanjang sesi pagi, indeks sempat mencicipi puncak 6.045 sebelum terhempas hingga menyentuh titik terendah 5.864. Fenomena ini diperparah dengan 546 saham yang merana di zona merah, sementara hanya 98 saham yang mampu bertahan menguat, dan 154 lainnya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp4,44 triliun dari 8 miliar saham yang diperdagangkan dalam 662 ribu kali transaksi.

Gawat IHSG Ambles Lebih 2 Persen Investor Panik
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Beberapa emiten menjadi sorotan karena paling aktif diperdagangkan, di antaranya TPIA, BBCA, BMRI, DSSA, dan TLKM. Namun, pelemahan tak pandang bulu, menyapu bersih seluruh sektor perdagangan. Sektor barang baku menjadi yang paling terpukul dengan koreksi 3,90%, disusul konsumer non-primer (-2,60%), utilitas (-2,28%), dan teknologi (-2,12%).

Kontributor utama amblesnya IHSG tak lain adalah saham-saham berkapitalisasi besar. Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pemberat terbesar dengan sumbangan pelemahan 13,58 poin indeks. Kemudian diikuti oleh BMRI (-7,05 poin), DCII (-6,94 poin), BBRI (-6,28 poin), dan BRMS (-6,01 poin).

Gejolak pasar ini tak lepas dari kombinasi sentimen global dan domestik. Dari panggung dunia, investor mencermati data ekonomi Amerika Serikat yang kian perkasa. Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS Mei 2026 melonjak 4,1% secara tahunan, jauh di atas target The Fed 2%. Pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 direvisi naik menjadi 2,1%, ditambah klaim pengangguran yang turun, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang solid.

Kondisi ini memicu spekulasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Implikasinya, dolar AS berpotensi semakin perkasa, menekan arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memicu aksi jual di bursa saham.

Di dalam negeri, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) turut mengambil langkah strategis dengan menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75% untuk periode Juli-September 2026. Kebijakan ini bertujuan menjaga kredibilitas bunga penjaminan di tengah kenaikan suku bunga acuan dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain itu, rencana pemerintah untuk menerbitkan Panda Bond berdenominasi yuan pada awal Juli 2026 juga menjadi perhatian. Instrumen ini merupakan bagian dari diversifikasi sumber pembiayaan negara, sekaligus membuka akses pendanaan lebih luas di pasar keuangan Tiongkok. Meskipun demikian, sentimen positif dari rencana ini belum mampu membendung derasnya tekanan jual yang melanda IHSG hari ini.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar