Haluannews Ekonomi – Kabar kurang sedap menghampiri PT Link Net (LINK), emiten penyedia layanan internet, yang mencatatkan kerugian membengkak menjadi Rp 1,03 triliun per kuartal III 2025. Angka ini melonjak 28,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 801,54 miliar.

Related Post
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (12/11/2025), kerugian per saham dasar dan dilusian juga ikut terkerek naik menjadi Rp 374 dari sebelumnya Rp 291. Meskipun demikian, perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 45,73% menjadi Rp 2,39 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,64 triliun. Beban penyusutan juga mengalami penurunan tipis menjadi Rp 1,25 triliun dari sebelumnya Rp 1,26 triliun.

Sayangnya, kenaikan pendapatan ini tidak mampu menutupi lonjakan beban jaringan dan beban langsung lainnya yang membengkak menjadi Rp 1,21 triliun, dari sebelumnya Rp 592,35 miliar. Sementara itu, beban umum dan administrasi tercatat turun menjadi Rp 267,73 miliar dari Rp 294,56 miliar. Beban gaji dan kesejahteraan karyawan mengalami kenaikan tipis menjadi Rp 199,89 miliar dari Rp 196,09 miliar. Beban amortisasi juga bertambah menjadi Rp 60,78 miliar dari Rp 50,7 miliar. Beban penjualan dan pemasaran justru mengalami penurunan menjadi Rp 22,6 miliar dari Rp 25,15 miliar.
Perusahaan juga mencatatkan penurunan nilai piutang usaha menjadi Rp5,13 miliar dari Rp 21,08 miliar. Beban keuangan tercatat Rp 404,54 miliar, turun dari Rp 489 miliar. Sementara penghasilan keuangan naik menjadi Rp 7,39 miliar dari Rp 4,93 miliar. Beban lainnya bersih tercatat Rp 7,46 miliar, turun dari Rp 8,64 miliar. Beban pajak penghasilan juga mengalami penurunan menjadi Rp 1,33 miliar dari Rp 75,22 miliar.
Dari sisi neraca, jumlah ekuitas tercatat Rp 3,97 triliun, mengalami penurunan dari akhir tahun sebelumnya Rp 5 triliun. Total liabilitas terkumpul Rp 11,11 triliun, mengalami pembengkakan dari akhir 2024 sebesar Rp 8,91 triliun. Jumlah aset tercatat Rp 15,08 triliun, mengalami lonjakan dari akhir tahun lalu Rp 13,91 triliun.
Kinerja LINK yang kurang menggembirakan ini tentu menjadi perhatian para investor. Pertanyaan besar yang muncul adalah, mampukah LINK membalikkan keadaan dan kembali mencetak keuntungan di masa mendatang?
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar