Haluannews Ekonomi – Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini melontarkan peringatan terkait gelombang investasi yang deras mengalir ke sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI). Lembaga keuangan global ini bahkan menyamakan fenomena AI saat ini dengan ledakan dot-com yang terjadi pada akhir dekade 1990-an, mengindikasikan potensi risiko yang mengintai.

Related Post
Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, dalam publikasi Prospek Ekonomi Dunia terbarunya, menyatakan bahwa optimisme yang berlebihan terhadap AI mendorong investasi teknologi, mendongkrak valuasi saham, dan meningkatkan konsumsi melalui keuntungan modal.

"Kondisi ini berpotensi mendorong suku bunga netral riil ke atas. Perkembangan booming AI yang berkelanjutan mungkin memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat, mirip dengan yang terjadi pada akhir 1990-an," ungkap Gourinchas, seperti dikutip dari Blog IMF.
Suku bunga netral riil sendiri adalah tingkat suku bunga di mana kebijakan moneter tidak memberikan stimulus maupun pembatasan terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga memungkinkan perekonomian tumbuh sesuai dengan potensinya dengan tingkat inflasi yang stabil.
Lebih lanjut, Gourinchas melihat adanya risiko pembalikan pasar keuangan jika ekspektasi keuntungan tinggi dari AI tidak terwujud. "Pasar dapat melakukan koreksi harga secara tajam, terutama jika AI gagal memenuhi ekspektasi keuntungan yang tinggi. Hal ini akan mengurangi kekayaan dan menekan konsumsi, dengan efek buruk yang berpotensi menyebar melalui sistem keuangan," jelasnya.
Meskipun demikian, dalam laporan WEO Oktober 2025, IMF mengakui bahwa kecerdasan buatan berpotensi memicu kembali pertumbuhan produktivitas. Adopsi AI yang lebih cepat dapat menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan seiring perusahaan meningkatkan penggunaan berbagai perangkat berbasis AI yang sedang dikembangkan dan diterapkan dengan kecepatan tinggi.
IMF juga menekankan bahwa keuntungan dari AI dapat jauh melampaui potensi biaya dari dampak negatifnya terhadap ketenagakerjaan, terutama jika pemerintah menerapkan kerangka regulasi yang memadai dan menawarkan program-program pasar tenaga kerja yang mendukung dan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan memperbarui keterampilan pekerja yang berisiko tergusur.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar