Laba JARR Haji Isam Anjlok 30%: Terungkap Biang Keroknya!

Haluannews Ekonomi – Kinerja keuangan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, menunjukkan tekanan signifikan pada kuartal pertama tahun ini. Produsen biodiesel ini mencatatkan penurunan laba bersih yang cukup tajam, seiring dengan kombinasi pelemahan pendapatan dan lonjakan beban operasional.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, laba bersih JARR tercatat sebesar Rp 41,33 miliar pada kuartal I-2024. Angka ini merosot 30,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencapai Rp 59,73 miliar. Penurunan profitabilitas ini menjadi sorotan para analis pasar, mengingat posisi JARR sebagai pemain kunci di sektor biodiesel.

Laba JARR Haji Isam Anjlok 30%: Terungkap Biang Keroknya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dari sisi pendapatan, JARR juga mengalami kontraksi. Penjualan perseroan turun menjadi Rp 776,51 miliar, dari sebelumnya Rp 849,09 miliar pada kuartal I-2023. Penurunan pada lini teratas ini secara langsung menggerus laba usaha, yang anjlok dari Rp 103,79 miliar menjadi Rp 77,43 miliar.

Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa produk fatty acid methyl ester (FAME) menjadi biang kerok utama penurunan pendapatan. Penjualan FAME terkoreksi 12,52% menjadi Rp 627,17 miliar. Padahal, segmen FAME merupakan tulang punggung bisnis JARR, menyumbang lebih dari 80% dari total pendapatan perusahaan, tepatnya 80,77%. Meskipun beberapa lini bisnis lain seperti penjualan crude glycerine melesat dua kali lipat lebih secara tahunan dan minyak goreng naik 17,16% secara year-on-year, pertumbuhan ini belum mampu menutupi defisit yang ditinggalkan oleh anjloknya penjualan FAME.

Tekanan terhadap penjualan FAME semakin diperparah oleh penurunan signifikan transaksi dengan pelanggan utama JARR, PT Pertamina Patra Niaga. Pada Maret 2024, nilai transaksi dengan Pertamina Patra Niaga tercatat Rp 322,27 miliar, anjlok 39,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran atau pengurangan permintaan dari distributor utama.

Selain tantangan di sisi pendapatan, JARR juga menghadapi lonjakan beban operasional. Beban penjualan melonjak tajam menjadi Rp 46,58 miliar, dari Rp 34,16 miliar pada kuartal I-2023. Kenaikan beban ini semakin menekan margin keuntungan perusahaan di tengah kondisi penjualan yang lesu. Tak hanya itu, beban umum dan administrasi juga ikut meningkat menjadi Rp 18,80 miliar.

Kombinasi antara pendapatan yang menurun, peningkatan biaya operasional, serta beban bunga yang relatif tinggi, menjadi faktor-faktor dominan yang menyebabkan laba bersih JARR tertekan pada periode ini. Dinamika harga komoditas global dan perubahan pola permintaan domestik kemungkinan turut berperan dalam membentuk lanskap kinerja JARR.

Kendati demikian, di tengah tantangan profitabilitas, JARR masih menunjukkan posisi likuiditas yang cukup solid. Kas dan setara kas perseroan meningkat menjadi Rp 463,05 miliar, dari Rp 392,44 miliar pada akhir tahun fiskal sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh membaiknya arus kas dari aktivitas operasi, yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola perputaran modal kerjanya, demikian laporan Haluannews.id.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar