Jangan Kaget! Lo Kheng Hong Buktikan Cuan Jumbo dari Saham Bank

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia masih bergulat dengan ketidakpastian, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belum mampu keluar dari kisaran 7.000-an. Gejolak ekonomi global, termasuk konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, telah menyeret turun harga saham-saham domestik, bahkan sektor perbankan yang sebelumnya menjadi tumpuan investor. Namun, di tengah kondisi menantang ini, investor kawakan Lo Kheng Hong justru membuktikan bahwa cuan besar masih bisa diraih, terutama dari saham-saham bank.

COLLABMEDIANET

Lo Kheng Hong, yang kerap dijuluki Warren Buffett-nya Indonesia, menegaskan bahwa prospek saham perbankan tetap sangat menjanjikan. Menurutnya, industri ini memiliki fundamental dan kinerja yang solid. "Tentu saja masih menjanjikan ke depannya," ungkap Lo Kheng Hong kepada Haluannews.id, dalam sebuah wawancara yang baru-baru ini dipublikasikan. Ia secara khusus menyoroti daya tarik saham bank-bank besar milik pemerintah yang dinilai mampu memberikan keuntungan menggiurkan, seperti yang ia alami sendiri dari kepemilikan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Jangan Kaget! Lo Kheng Hong Buktikan Cuan Jumbo dari Saham Bank
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Bukti nyata keuntungan tersebut terlihat pada Maret 2025 lalu, ketika Lo Kheng Hong mengumumkan perolehan dividen jumbo dari investasinya di BBRI, bank yang dikenal kuat di sektor UMKM. Kala itu, dengan kepemilikan 64.636.000 lembar saham, ia berhasil meraup keuntungan fantastis sebesar Rp 13,47 miliar. Angka ini menjadi penegas bahwa strategi investasinya di saham perbankan berbuah manis.

Lo Kheng Hong secara lugas menyatakan bahwa imbal hasil dividen dari saham bank-bank pelat merah jauh lebih menarik dibandingkan produk keuangan lain. "Sangat menarik, dividen yield big bank pemerintah 10%, lebih tinggi dari Deposito & Obligasi," tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa salah satu kunci strateginya adalah tidak menjual atau mengurangi kepemilikan sahamnya sebelum tanggal cum date dividen, memastikan ia selalu mendapatkan jatah keuntungan tersebut.

Fenomena keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia memang telah menyebabkan harga saham-saham unggulan (blue chip) mengalami koreksi tajam. "Dana asing kabur, harga saham Blue Chip turun banyak," ujar Lo Kheng Hong. Namun, alih-alih ikut panik dan menarik diri, ia justru melihat kondisi ini sebagai peluang emas. Dengan filosofi "beli saat diskon," Lo Kheng Hong bahkan rela mencairkan seluruh reksadana, deposito, dan obligasinya untuk memborong saham-saham perusahaan berkualitas tinggi atau "Wonderful Company" yang sedang diobral oleh investor asing.

Kisah Lo Kheng Hong ini menjadi inspirasi bagi banyak investor, membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat dan keyakinan pada fundamental perusahaan, keuntungan signifikan dapat diraih bahkan di tengah volatilitas pasar. Fokusnya pada dividen sebagai sumber cuan yang stabil menegaskan kembali pentingnya memilih investasi jangka panjang pada aset-aset berkualitas.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar