Haluannews Ekonomi – Emiten holding Grup Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), kini menjadi magnet perhatian utama di kalangan pelaku pasar. Kinerja keuangan perseroan pada tahun 2025 mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan sebesar 50,7%, mencapai Rp493,85 miliar. Pencapaian ini menarik perhatian khusus mengingat pendapatan operasional perseroan justru mengalami penurunan tipis menjadi Rp3,74 triliun.

Related Post
Pendorong utama di balik kenaikan laba tersebut, seperti dianalisis Haluannews.id, didominasi oleh keuntungan akuntansi atau laba buku senilai Rp422,37 miliar. Keuntungan ini merupakan hasil dari kewajiban revaluasi aset sesuai standar akuntansi yang berlaku, menyusul rampungnya akuisisi 90% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) oleh BNBR pada akhir tahun 2025.

Di samping itu, BNBR juga tengah mematangkan rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue berskala jumbo. Perseroan berencana menerbitkan 86,7 miliar saham baru Seri E dengan harga pelaksanaan Rp12 per saham, menggunakan rasio 2:1. Mayoritas dana segar yang berhasil dihimpun dari aksi koroma ini akan dialokasikan untuk melunasi utang triliunan rupiah kepada berbagai pihak.
Langkah restrukturisasi neraca ini diproyeksikan akan menyehatkan struktur modal perseroan secara substansial. BNBR menargetkan pemangkasan Rasio Utang terhadap Ekuitas (DER) dari level 536,02% menjadi 211,57%, sebuah perbaikan fundamental yang akan memberikan ruang gerak finansial lebih besar.
Dengan fondasi neraca yang jauh lebih sehat, BNBR kini membuka jalan untuk berekspansi ke sektor yang menjanjikan pertumbuhan tinggi, yakni bisnis pusat data atau data center. Melalui entitas afiliasinya, PT Multi Kontrol Nusantara (MKN), perseroan telah merealisasikan pembelian lahan strategis seluas 1,67 hektare di Kalideres, Jakarta Barat, dengan nilai transaksi mencapai Rp500 miliar.
Lahan tersebut dipersiapkan untuk pembangunan fasilitas data center inner city, sebuah model pusat data di wilayah perkotaan padat yang kini tengah diminati oleh para raksasa teknologi. Ekspansi ini juga diiringi dengan mitigasi risiko yang ketat; BNBR memegang klausul khusus yang mewajibkan pihak penjual untuk mengembalikan uang muka (DP) sebesar Rp152,4 miliar secara utuh seratus persen tanpa potongan, apabila proyek tersebut terpaksa urung dilanjutkan.
Kombinasi katalis fundamental ini, mulai dari akuisisi jalan tol, perbaikan rasio utang, hingga sentimen masuknya perseroan ke ekosistem teknologi, langsung direspons secara agresif di lantai bursa. Pergerakan saham BNBR belakangan ini sangat dinamis, salah satunya ditandai dengan lonjakan tajam 12,62% ke level Rp232 per saham, menggenapkan reli kenaikan yang menembus lebih dari 400% dalam enam bulan terakhir. Ini menunjukkan kepercayaan pasar yang kuat terhadap arah strategis Grup Bakrie ke depan.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar