Haluannews Ekonomi – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) mengambil langkah inovatif untuk menanggulangi tingginya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di sektor konstruksi. Bank spesialis pembiayaan perumahan ini berencana memanfaatkan skema Dana Investasi Real Estate (DIRE) atau Real Estate Investment Trust (REIT) sebagai solusi strategis untuk mengalihkan aset kredit konstruksi yang kini terjerat kemacetan.

Related Post
Setiyo Wibowo, Direktur Manajemen Risiko BTN, menjelaskan bahwa inovasi ini berfokus pada properti bermasalah yang masih memiliki prospek pendapatan. Aset-aset tersebut akan direstrukturisasi dan dikemas ulang menjadi instrumen DIRE, kemudian ditawarkan kepada para investor. Dengan demikian, aset yang semula tidak produktif dapat kembali menghasilkan keuntungan.

"Ini akan menjadi salah satu inovasi baru kami. Kami telah menyiapkan beberapa aset properti yang akan diperbaiki terlebih dahulu, bisa berupa hotel, kondotel, atau pusat perbelanjaan. Aset-aset ini kemudian akan kami bungkus menjadi DIRE," terang Setiyo dalam sebuah media briefing di Perumahan Mutiara Gading City, Bekasi Utara, pada Rabu (4/1/2026). Ia menambahkan bahwa skema ini merupakan salah satu opsi utama untuk menyelesaikan masalah kredit konstruksi yang saat ini mengalami kemacetan.
Menurut Setiyo, penggunaan skema DIRE/REIT sebagai mekanisme penyelesaian kredit bermasalah merupakan terobosan baru yang pertama kali diterapkan di Indonesia. Sebagai informasi, DIRE/REIT adalah sebuah wadah investasi yang dirancang untuk mengumpulkan dana dari publik dan mengalihkannya ke aset real estat, aset terkait real estat, atau kas dan setara kas.
Data dari paparan analyst meeting BTN menunjukkan bahwa NPL di sektor konstruksi telah mencapai 16,2% pada September 2025, mengalami peningkatan dari 15,0% pada Juni 2025. Setiyo mengungkapkan bahwa tingginya angka kredit macet ini sebagian besar disebabkan oleh kredit-kredit lama yang dibukukan sebelum tahun 2020, atau sebelum pandemi Covid-19 melanda. Ia mengakui bahwa proses penyelesaian aset kredit bermasalah membutuhkan waktu yang tidak singkat.
"Memang jika aset sudah bermasalah, strategi pemulihannya memerlukan waktu. Oleh karena itu, sebisa mungkin masalah ini harus dicegah. Karena jika sudah menjadi masalah, proses pengeluaran dari buku bank akan memakan waktu, proses penjualannya lama, dan lain-lain," jelas Setiyo.
Selain skema DIRE/REIT, BTN juga menyiapkan langkah-langkah lain seperti mekanisme recycle untuk aset kredit macet. Bank milik negara yang fokus pada pembiayaan perumahan ini juga aktif melakukan penjualan kredit bermasalah kepada pihak ketiga sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar