Haluannews Ekonomi – Badai krisis terus menghantam bisnis restoran cepat saji KFC di Indonesia. Induk perusahaan, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), terpaksa menutup 19 gerai dan merumahkan sekitar 400 karyawan sepanjang tahun 2025. Langkah pahit ini menjadi sinyalemen kondisi keuangan perusahaan yang kian memburuk.

Related Post
Manajemen FAST mengungkapkan fakta tersebut dalam paparan publik insidental pada Kamis, 2 Oktober 2025. Penutupan gerai dan PHK menjadi opsi terakhir untuk menekan kerugian yang terus membengkak. Tahun sebelumnya, KFC juga telah menutup 55 gerai. Dengan demikian, jumlah gerai KFC yang masih beroperasi hingga semester pertama tahun ini hanya 698 toko.

Kinerja keuangan yang kurang memuaskan menjadi penyebab utama kebijakan tersebut. Tercatat, KFC terakhir kali mencetak keuntungan pada tahun 2019. Laporan keuangan terbaru menunjukkan, rugi bersih perusahaan hingga 30 Juni 2025 mencapai Rp138,75 miliar, meskipun angka ini lebih baik dibandingkan rugi tahun sebelumnya sebesar Rp348,83 miliar.
Dari sisi pendapatan, perusahaan milik Keluarga Gelael ini mencatatkan penurunan sebesar 3,12% menjadi Rp2,40 triliun dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp2,48 triliun. Pendapatan ini bersumber dari penjualan makanan dan minuman, komisi penjualan konsinyasi, serta jasa layanan antar.
Di tengah kesulitan keuangan, FAST sempat meminta suntikan modal dari pemegang saham. Grup Salim, melalui PT Indoritel Makmur International Tbk (DNET), mengucurkan dana sebesar Rp40 miliar melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) pada 28 Mei 2025. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk modal kerja dan mendukung perkembangan perusahaan.
Selain itu, terjadi pula transaksi penjualan saham anak perusahaan, PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI), kepada PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN) yang terafiliasi dengan Haji Isam. SFN membeli 15% saham JAI senilai Rp54,44 miliar.
Kondisi keuangan KFC yang tertekan ini menjadi tantangan berat bagi manajemen. Berbagai upaya restrukturisasi dan perbaikan kinerja terus dilakukan untuk menyelamatkan bisnis restoran cepat saji yang telah lama menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar