Haluannews Ekonomi – Manajemen PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI), emiten yang bergerak di sektor pembiayaan, akhirnya memberikan klarifikasi setelah laporan keuangannya untuk tahun buku 2025 menjadi sorotan tajam dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Bursa mempertanyakan sejumlah perubahan drastis, termasuk penurunan laba yang signifikan dan "lenyapnya" piutang pembiayaan yang mencapai puluhan miliar rupiah.

Related Post
Laporan keuangan FUJI menunjukkan laba tahun berjalan yang terkoreksi tajam sebesar 24,32% pada periode yang berakhir 31 Desember 2025. Laba bersih perusahaan tercatat hanya Rp8,35 miliar, menurun drastis dari capaian Rp11,03 miliar pada tahun sebelumnya, 2024. Penurunan profitabilitas ini, menurut manajemen, disebabkan oleh dua faktor utama: menyusutnya pendapatan selisih kurs serta melonjaknya beban umum dan administrasi.

Dalam keterbukaan informasi kepada BEI, yang diakses oleh Haluannews.id pada Selasa (21/4/2026), perseroan menegaskan komitmennya terhadap prinsip konservatif. "Perseroan mempertahankan prinsip konservatif, di mana setiap penyaluran piutang dipastikan diikat dengan jaminan berbentuk hak tanggungan atas tanah dan/atau bangunan dengan nilai aset yang mencukupi. Evaluasi berkala terhadap kondisi keuangan debitur juga dilakukan untuk memastikan kelancaran kolektibilitas piutang," demikian penjelasan manajemen.
Salah satu pemicu utama tergerusnya laba adalah lonjakan beban umum dan administrasi. BEI secara spesifik meminta penjelasan atas kenaikan beberapa komponen biaya tersebut. Manajemen FUJI merinci bahwa beban perjalanan dan transportasi melonjak fantastis hingga 692,06% pada 2025. Kenaikan ini diklaim seiring dengan intensitas aktivitas manajemen dalam menjalin kerja sama dengan mitra strategis dan investor global, khususnya yang berfokus pada sektor hijau.
Selain itu, beban perlengkapan kantor juga meningkat signifikan sebesar 282,14% untuk mendukung operasional perusahaan. Sementara itu, beban lain-lain tercatat naik 121,09%, dipicu oleh peningkatan biaya pencatatan tahunan di BEI serta beban pajak penghasilan.
Dinamika paling mencolok terjadi pada pos piutang pembiayaan. FUJI melaporkan bahwa nilai piutang pembiayaan perseroan menjadi nihil per 31 Desember 2025. Di sisi lain, pos piutang lain-lain justru membengkak luar biasa hingga 3.618,26% dibandingkan tahun sebelumnya.
Manajemen menjelaskan bahwa perubahan drastis ini merupakan hasil reklasifikasi piutang pembiayaan senilai Rp80 miliar menjadi piutang lain-lain. Langkah ini diambil setelah evaluasi mendalam berdasarkan ketentuan POJK No. 46/2024 terkait definisi pembiayaan. "Beberapa dari piutang-piutang tersebut merupakan penyaluran terhadap pengambilalihan kredit dari Bank (takeover kredit) sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai salah satu dari Pembiayaan Multiguna, Pembiayaan Investasi maupun Pembiayaan Multiguna," jelas manajemen, mengindikasikan penyesuaian terhadap standar regulasi yang berlaku.
BEI juga menyoroti tingginya rasio non-performing financing (NPF) FUJI pada 2024 yang sempat mencapai sekitar 48%. Perseroan mengungkapkan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh kesulitan arus kas debitur pascapandemi, yang mengganggu kemampuan pembayaran mereka. Namun, manajemen menegaskan bahwa pada 2025, fasilitas pembiayaan terhadap debitur bermasalah tersebut telah berhasil dialihkan ke pihak lain. Dengan restrukturisasi ini, rasio NPF perseroan dilaporkan kembali turun menjadi 0%, menunjukkan upaya perusahaan dalam menjaga kualitas asetnya.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar