Kejutan Pagi: IHSG Melonjak Drastis, Ini Pemicu Utamanya!

Kejutan Pagi: IHSG Melonjak Drastis, Ini Pemicu Utamanya!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Rabu (8/4/2026) dengan performa yang memukau, melesat 2,75% atau setara 191 poin, mengukuhkan posisinya di level 7.162,41. Lonjakan signifikan ini didorong oleh sentimen positif yang menyelimuti pasar global, terutama meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Data perdagangan pagi menunjukkan dominasi saham-saham yang menguat, dengan 351 saham naik, berbanding 69 saham yang melemah, sementara 210 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 5.554,24 miliar, melibatkan 846 juta saham dalam 42.676 kali transaksi, mengangkat kapitalisasi pasar hingga Rp 12.573 triliun.

COLLABMEDIANET

Penyebab utama di balik euforia pasar pagi ini adalah kabar gembira dari arena geopolitik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan untuk menangguhkan rencana serangan terhadap infrastruktur Iran selama dua minggu. Keputusan krusial ini diambil dengan syarat Iran bersedia membuka sepenuhnya, segera, dan aman Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang selama ini menjadi titik panas konflik. Pernyataan Trump di platform Truth Social disambut baik, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahan di platform X, mengonfirmasi bahwa angkatan bersenjata Iran akan menghentikan operasi defensifnya, serta menjamin jalur aman di Selat Hormuz melalui koordinasi militer dalam dua minggu ke depan. Harapan akan stabilitas di kawasan ini sontak memicu optimisme investor global.

Kejutan Pagi: IHSG Melonjak Drastis, Ini Pemicu Utamanya!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dampak langsung dari meredanya ketegangan ini terasa di pasar komoditas dan bursa saham global. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dari 16%, menyentuh level US$94,23 per barel, mencerminkan berkurangnya kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Pasar saham Asia-Pasifik kompak merespons positif. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,3%, diikuti Kosdaq yang naik 3,4%, dengan saham unggulan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing menguat 7,25% dan 9,2%. Di Jepang, Nikkei 225 terbang 4,5% dan Topix naik 3,2%. Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia juga terkerek 2,7%, dan kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong menunjukkan sinyal penguatan setelah libur.

Di pasar domestik, mengutip data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan membukukan penguatan, dengan kenaikan paling tajam dicatatkan oleh sektor infrastruktur, barang baku, dan finansial. Emiten-emiten berkapitalisasi besar atau blue chip menjadi motor penggerak utama laju IHSG, termasuk saham-saham dari grup konglomerasi yang ramai-ramai mencatat kenaikan signifikan. Sebaliknya, sektor-sektor yang sebelumnya menjadi "safe haven" investor di tengah ketidakpastian geopolitik, seperti migas dan batu bara, justru kompak melemah hari ini, mengindikasikan pergeseran preferensi risiko.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tampil sebagai kontributor terbesar penguatan IHSG dengan sumbangsih 19 poin, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Astra International Tbk (ASII). Di sisi lain, beberapa saham yang menjadi laggard atau penekan IHSG hari ini antara lain AADI, MEDC, ITMG, AKRA, dan PTBA.

Manajer portofolio Thornburg Investments, Josh Rubin, berpendapat bahwa penurunan harga energi berpotensi meredakan tekanan inflasi global. Kondisi ini membuka ruang bagi bank sentral di berbagai negara untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga, sebuah prospek yang sangat dinantikan pasar. Sentimen positif ini juga merambat ke pasar berjangka Amerika Serikat, dengan Dow Jones naik 1,5%, S&P 500 bertambah 1,6%, dan Nasdaq 100 menguat 1,7%, mengindikasikan optimisme investor terhadap stabilitas ekonomi jangka pendek.

Meski euforia melanda, perhatian investor global juga akan tertuju pada rilis risalah rapat Federal Reserve (FOMC Minutes). Dokumen ini akan memberikan gambaran lebih dalam mengenai pandangan para pejabat bank sentral AS terhadap kondisi ekonomi terkini, proyeksi inflasi, dan arah kebijakan moneter ke depan. Pasar akan menganalisis setiap detail dalam risalah tersebut, terutama terkait bagaimana The Fed menilai dampak lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik yang kini mulai mereda.

Selain itu, pada hari yang sama, pasar juga akan mencermati data inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis oleh Bureau of Economic Analysis. Indikator ini merupakan acuan utama The Fed dalam mengukur tekanan inflasi. Pada rilis terakhir untuk Januari 2026, indeks harga PCE tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan, sementara core PCE, yang dianggap lebih mencerminkan tren inflasi dasar, naik 0,4% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan. Untuk data Februari 2026 yang akan diumumkan, pelaku pasar memperkirakan core PCE tumbuh sekitar 3,0% secara tahunan. Angka ini akan menjadi krusial untuk melihat apakah tekanan harga mulai mereda atau justru bertahan lebih lama di tengah dinamika biaya energi global yang fluktuatif.

Dengan demikian, meskipun sentimen positif dari gencatan senjata memberikan dorongan kuat bagi IHSG dan pasar global, kewaspadaan terhadap data ekonomi makro AS tetap menjadi kunci untuk pergerakan pasar selanjutnya.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar