IHSG Melonjak Dahsyat Ini Pemicu Utamanya

IHSG Melonjak Dahsyat Ini Pemicu Utamanya

haluannews.id – Bursa saham Indonesia kembali menunjukkan taringnya pada Kamis 2 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil melesat tinggi di sesi pertama perdagangan, menutup paruh hari di level 5.792,17. Kenaikan signifikan sebesar 1,7 persen atau setara 97,05 poin ini sontak memicu optimisme di kalangan investor.

COLLABMEDIANET

Data menunjukkan hampir separuh dari total emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, yakni 458 perusahaan, berhasil parkir di zona hijau. Sementara itu, hanya sekitar 19 persen emiten yang mengalami koreksi dan sisanya sebanyak 318 saham terpantau stagnan tanpa pergerakan berarti.

IHSG Melonjak Dahsyat Ini Pemicu Utamanya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski demikian, gairah transaksi di pasar masih terbilang cukup sepi. Nilai perdagangan hingga akhir sesi pertama hanya mencapai Rp 6,49 triliun dengan volume transaksi 12,4 miliar saham. Tercatat investor melakukan sekitar 913.300 kali transaksi.

Pergerakan positif ini melanjutkan tren penguatan kemarin, di mana IHSG ditutup naik 0,92 persen ke level 5.695,12. Indeks kini tengah berjuang keras untuk kembali menembus area resistensi kuat di kisaran 6.100 hingga 6.200.

Menurut analisis Refinitiv, lonjakan IHSG hari ini didorong oleh performa gemilang emiten-emiten bank berkapitalisasi besar. Sebut saja BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI yang secara kompak menjadi penggerak utama dengan bobot kontribusi yang sangat signifikan. Tak hanya itu, saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu seperti BRPT dan BREN juga turut memberikan dorongan besar bagi indeks.

Memasuki hari kedua semester kedua tahun 2026, pasar keuangan Indonesia akan dihadapkan pada serangkaian sentimen penting. Mulai dari rilis data ekonomi krusial hingga pidato Chairman The Fed Kevin Warsh yang sangat dinanti.

Ancaman defisit neraca dagang yang baru saja terjadi, anjloknya PMI Manufaktur, serta kenaikan inflasi ditambah pandangan The Fed yang masih cenderung hawkish berpotensi menjadi tekanan berat bagi nilai tukar rupiah dan pergerakan IHSG ke depan.

Sebagai catatan, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Badan Pusat Statistik BPS mengumumkan defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Angka ini muncul karena nilai ekspor hanya US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar. Defisit terakhir terjadi pada April 2020 dengan angka US$0,38 miliar.

Selain itu, BPS juga melaporkan inflasi di Indonesia pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka inflasi tahun kalender tercatat 1,79 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,34 persen. Tekanan inflasi pada Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan ini lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang hanya 0,28 persen mtm.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar