haluannews.id – Pembukaan perdagangan Kamis (2/7/2026) menjadi momen cerah bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali menunjukkan performa impresif, melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya. Pasar modal domestik tampak bergairah, dengan indeks acuan ini melesat tajam di awal sesi.

Related Post
Hingga pukul 09.16 WIB, laju IHSG sudah melesat 1,22 persen, menambahkan 69 poin ke posisi 5.764. Bahkan, sempat menyentuh level tertinggi harian di angka 5.773,48. Aktivitas transaksi juga cukup padat, tercatat nilai perdagangan mencapai sekitar Rp 1,68 triliun. Sebanyak 2,78 miliar lembar saham berpindah tangan dalam 200 ribu kali transaksi. Data menunjukkan dominasi penguatan, di mana 356 saham berhasil naik, 162 saham melemah, dan 165 saham lainnya bergerak stagnan.

Kenaikan IHSG ini didorong oleh hampir seluruh sektor perdagangan yang menunjukkan kinerja positif. Hanya sektor kesehatan yang mencatat koreksi tipis. Sektor-sektor yang menjadi motor penggerak utama meliputi barang baku yang melonjak 2,57 persen, utilitas naik 1,85 persen, finansial menguat 1,44 persen, dan properti yang bertumbuh 1,36 persen.
Saham-saham unggulan atau blue chip, terutama yang terafiliasi dengan grup konglomerasi besar, menjadi penopang utama lonjakan IHSG hari ini. Empat bank raksasa Tanah Air memimpin penguatan. Bank Central Asia (BBCA) menyumbang kenaikan signifikan sebesar 17,69 indeks poin, diikuti Bank Mandiri (BMRI) dengan 9,82 indeks poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 4,39 indeks poin, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menambah 2,64 indeks poin. Secara keseluruhan, bank-bank besar di Indonesia, termasuk KBMI III, kompak menunjukkan performa positif, dengan BBCA dan BMRI sebagai pemimpinnya.
Tidak hanya perbankan, emiten-emiten dari grup konglomerasi juga turut serta mengerek IHSG. Sumbangan terbesar datang dari saham AMMN, BRMS, BREN, dan MORA. Seluruh saham di bawah Grup Barito milik Prajogo Pangestu tercatat menguat hari ini. Emiten tambang emas seperti BRMS dan ANTM juga kompak naik, menambah kekuatan indeks.
Memasuki hari kedua semester kedua tahun 2026, pasar keuangan Indonesia akan dihadapkan pada sejumlah sentimen krusial. Mulai dari rilis data ekonomi domestik hingga pidato penting dari Chairman The Fed, Kevin Warsh. Potensi tekanan bisa datang dari defisit neraca dagang, penurunan Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur, lonjakan inflasi, serta pandangan The Fed yang masih cenderung hawkish. Faktor-faktor ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan pergerakan IHSG ke depan.
Di sisi lain, bursa saham Asia-Pasifik justru memulai perdagangan Kamis (3/7/2026) dengan pelemahan. Kondisi ini mencerminkan sentimen negatif dari Wall Street yang mengalami aksi ambil untung investor, terutama pada saham-saham teknologi dan semikonduktor. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi yang paling terpukul, anjlok 5,36 persen saat pembukaan, bahkan memicu penghentian sementara perdagangan selama lima menit oleh Korea Exchange (KRX) untuk meredam volatilitas. Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga terperosok 3,55 persen. Di Jepang, Nikkei 225 melemah 0,70 persen meskipun Topix masih mampu menguat tipis 0,13 persen. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 0,59 persen.
Pelemahan di bursa Asia ini mengikuti jejak bursa Amerika Serikat yang ditutup lesu pada perdagangan Rabu waktu setempat. Indeks Dow Jones, setelah sempat melonjak 423,46 poin dan mencapai rekor tertinggi intraday, akhirnya memangkas seluruh kenaikannya dan ditutup nyaris stagnan. Indeks S&P 500 turun 0,2 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7 persen. Penurunan ini terjadi karena investor mengurangi eksposur mereka pada saham-saham produsen chip yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar.








Tinggalkan komentar