haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Kamis 2 Juli 2026 dengan performa yang memukau, melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya. Setelah pembukaan pukul 09.00 WIB yang menunjukkan kenaikan tipis 0,26% atau 15 poin ke level 5.709,84, laju indeks kebanggaan Tanah Air ini justru semakin kencang.

Related Post
Hanya dalam hitungan menit, IHSG melesat lebih jauh, mencapai penguatan signifikan 0,68% dan bertengger di posisi 5.735. Aktivitas perdagangan di awal sesi cukup ramai, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp 111,70 miliar. Sebanyak 172,78 juta saham berpindah tangan dalam 19.552 kali transaksi. Data menunjukkan 181 saham berhasil menguat, sementara 92 saham melemah, dan 297 saham lainnya bergerak stagnan. Beberapa emiten yang menjadi primadona dengan nilai transaksi terbesar di awal perdagangan meliputi BBCA, BBRI, BMRI, COCO, dan TLKM.

Namun, di balik euforia penguatan ini, pasar keuangan Indonesia memasuki paruh kedua tahun 2026 dengan bayang-bayang sejumlah sentimen krusial. Defisit neraca dagang yang mengejutkan, ambruknya Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur, lonjakan inflasi, serta pandangan hawkish dari Chairman The Fed Kevin Warsh, berpotensi menjadi tekanan serius bagi rupiah dan laju IHSG ke depan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk kali pertama dalam enam tahun terakhir. Pada Mei 2026, defisit mencapai US$1,61 miliar, di mana nilai ekspor sebesar US$23,20 miliar tidak mampu menutupi impor yang mencapai US$24,81 miliar. Kondisi ini mengingatkan pada defisit April 2020 yang kala itu sebesar US$0,38 miliar. Selain itu, inflasi di Indonesia pada Juni 2026 tercatat 0,44% secara bulanan (mtm), lebih tinggi dari Mei 2026 yang 0,28% mtm, dengan inflasi tahunan mencapai 3,34%.
Sentimen negatif juga datang dari bursa Asia-Pasifik yang mayoritas bergerak melemah pada perdagangan Kamis, terpengaruh aksi ambil untung investor di Wall Street, khususnya pada saham-saham teknologi dan semikonduktor. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan sempat anjlok 5,36% di awal sesi, memicu penghentian perdagangan sementara selama lima menit. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang terkoreksi 0,70%, dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,59%. Pergerakan ini mengikuti tren bursa Amerika Serikat pada Rabu sebelumnya, di mana indeks Dow Jones yang sempat melesat tinggi akhirnya memangkas seluruh kenaikannya, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup melemah.










Tinggalkan komentar