Haluannews Ekonomi – Jakarta – Di tengah gejolak pasar global yang memanas, nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan luar biasa dengan berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (17/3/2026). Apresiasi mata uang Garuda ini menjadi sorotan, terutama setelah Bank Indonesia (BI) kembali mengambil keputusan strategis untuk menahan suku bunga acuannya. Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, rupiah menutup perdagangan di zona hijau dengan penguatan 0,06%, menempatkannya di level Rp16.975/US$.

Related Post
Keputusan krusial ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 16-17 Maret 2026. Bank sentral memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%, menandai kali keenam secara berturut-turut suku bunga acuan tidak mengalami perubahan. Konsistensi kebijakan ini juga terlihat pada suku bunga Deposit Facility yang tetap di 3,75% dan Lending Facility di 5,50%. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa langkah ini merupakan upaya proaktif untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah kondisi global yang memburuk akibat konflik geopolitik. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan menjaga inflasi tetap sesuai target pada periode 2026-2027 serta mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional. BI juga berkomitmen penuh untuk mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan memperluas digitalisasi sistem pembayaran guna menopang aktivitas ekonomi.

Namun, ketahanan rupiah ini bukan tanpa tantangan. Dari ranah eksternal, dolar AS justru terpantau menguat. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat naik 0,17% ke level 99,878. Penguatan dolar ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven) di tengah eskalasi perang di Timur Tengah yang kini telah memasuki pekan ketiga. Konflik yang memanas, ditambah laporan mengenai sebagian penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi energi global, memicu lonjakan harga minyak. Situasi ini tak pelak menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi global dan memicu penyesuaian ekspektasi suku bunga di berbagai negara, yang pada akhirnya turut menopang penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.
Meskipun demikian, kemampuan rupiah untuk tetap bertahan di zona positif pada perdagangan hari ini mengindikasikan bahwa sentimen domestik, khususnya dari kebijakan BI yang konsisten dalam mempertahankan suku bunga, memberikan dukungan signifikan. Ini menjadi pembalikan posisi setelah perdagangan sebelumnya, di mana rupiah sempat melemah 0,30% ke Rp16.985/US$. Rupiah bahkan sempat dibuka lebih kuat 0,12% di posisi Rp16.865/US$ pada pagi hari, meskipun sebagian penguatan tersebut terkikis menjelang penutupan. Ketahanan rupiah di tengah badai global ini menjadi indikator penting bahwa fundamental ekonomi domestik, yang didukung oleh kebijakan moneter yang hati-hati dari BI, masih cukup kuat untuk menahan gejolak pasar dan menjaga stabilitas.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar