haluannews.id – Kabar mengejutkan datang dari raksasa batu bara PT Bayan Resources Tbk BYAN. Lembaga pemeringkat global Moody’s Ratings baru saja memangkas prospek perusahaan milik konglomerat Low Tuck Kwong itu menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Keputusan ini muncul di tengah badai ketidakpastian regulasi dan pengumuman force majeure yang mengguncang perusahaan, bahkan diiringi dengan masuknya Jhonlin Group milik Haji Isam.

Related Post
Asisten Wakil Presiden Moody’s Ratings Anthony Prayugo menjelaskan bahwa prospek negatif ini mencerminkan bayang-bayang ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi. Kondisi ini yang mendorong Bayan menyatakan force majeure atau keadaan kahar. Jika polemik ini tak segera terurai, produksi BYAN berpotensi terhambat dan laba perusahaan bisa tertekan signifikan.

Tanpa persetujuan kuota yang direvisi, produksi Bayan diperkirakan anjlok drastis menjadi sekitar 39 juta metrik ton pada 2026, jauh di bawah angka 68 juta metrik ton pada 2025. Penurunan volume penjualan ini diperkirakan akan memangkas EBITDA Bayan dari US$1,1 miliar pada 2025 menjadi sekitar US$700 juta pada 2026. Skenario terburuk bahkan memproyeksikan EBITDA bisa terjun bebas ke angka US$400-500 juta pada 2027 jika produksi tetap stagnan.
Meski demikian, Moody’s mengakui bahwa metrik kredit Bayan Resources masih tergolong sangat kuat. Perusahaan ini memiliki neraca keuangan yang bebas utang, likuiditas yang melimpah, dan struktur biaya produksi yang efisien. Faktor-faktor inilah yang membuat Moody’s tetap mempertahankan peringkat keluarga korporasi (CFR) Ba1 untuk Bayan, menegaskan posisinya sebagai salah satu produsen batu bara termal terbesar di Indonesia dengan cadangan tambang yang berumur panjang.
Menariknya, di tengah gejolak ini, Bayan Resources justru mengumumkan aksi korporasi besar. Hanya dua hari setelah deklarasi force majeure, pendiri perusahaan Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026. PT Jhonlin Baratama adalah entitas di bawah bendera Jhonlin Group, konglomerasi milik pengusaha kakap Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam.
Berdasarkan informasi yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan OJK, transaksi jumbo ini melibatkan pengalihan 10.000.000.500 saham biasa Bayan Resources. Namun, penyelesaian penuh kesepakatan ini masih menunggu terpenuhinya sejumlah syarat dan kondisi pendahuluan.
Direktur Bayan Resources Jenny Quantero menegaskan bahwa kesepakatan jual beli saham ini diyakini tidak akan menimbulkan dampak negatif material terhadap operasional, aspek hukum, kondisi finansial, maupun kelangsungan bisnis perusahaan di masa mendatang.
Moody’s mengisyaratkan prospek Bayan bisa kembali stabil jika perusahaan mampu menunjukkan konsistensinya dalam memperoleh alokasi kuota produksi yang memadai, menjaga laba, arus kas, dan likuiditas yang prima, serta menerapkan kebijakan keuangan yang konservatif. Namun, peringatan penurunan peringkat juga membayangi jika terjadi gangguan operasional berkepanjangan, atau jika perubahan kepemilikan saham ini memicu kebijakan keuangan yang lebih agresif, rasio utang membengkak, atau pembagian dividen yang terlalu besar.










Tinggalkan komentar