haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan jelang akhir pekan dengan performa mengecewakan, tergelincir 21,27 poin atau setara 0,33% ke level 6.441. Pergerakan ini menandai hari yang berat bagi pasar modal domestik, di mana indeks gagal mempertahankan momentum positif yang sempat terlihat di awal sesi.

Related Post
Sepanjang hari, pergerakan IHSG didominasi tekanan jual. Setelah dibuka di level 6.512,57, indeks sempat melaju hingga menyentuh puncak 6.521,02. Namun, optimisme tersebut tak bertahan lama, dan IHSG kemudian terperosok ke titik terendah harian di 6.419,50 sebelum akhirnya ditutup di zona merah.

Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan, pada penutupan sesi kedua sore ini, hanya 212 saham yang berhasil menguat. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan 464 saham yang melemah, sementara 287 saham lainnya bergerak stagnan. Total volume transaksi mencapai 31,72 miliar saham dengan nilai fantastis Rp 19,24 triliun, mencerminkan intensitas perdagangan yang tinggi namun dengan sentimen negatif.
Menurut laporan Stockbit, total volume transaksi di seluruh pasar mencapai 325,81 juta lot, dengan nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 19,25 triliun dan frekuensi sekitar 1,92 juta kali. Pasar reguler menjadi penyumbang terbesar aktivitas ini, dengan 291,76 juta lot dan nilai Rp 17,3 triliun, menunjukkan dominasi perdagangan harian investor.
Beberapa sektor utama menjadi penekan terbesar laju IHSG. Data Refinitiv menyoroti sektor konsumer primer yang anjlok 1,27%, disusul oleh sektor properti yang merosot 1,2%, dan sektor kesehatan yang terkoreksi 1,18%. Penurunan ini mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap prospek beberapa industri vital.
Saham-saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat utama indeks, di antaranya PT Amman Minerals Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kontribusi negatif dari emiten-emiten ini sulit dibendung.
Meski demikian, sejumlah saham berupaya menopang koreksi lebih dalam. PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) menunjukkan ketahanan. Bahkan, pada pembukaan pagi hari, IHSG sempat melaju di jalur hijau, menguat 0,76% ke 6.511,5, ditopang oleh lonjakan saham BYAN yang melesat 19,96% ke Rp 13.835, serta beberapa emiten terafiliasi pengusaha Haji Isam.
Sentimen pasar global juga turut mewarnai pergerakan IHSG. Wall Street berhasil bangkit pada perdagangan Kamis, dengan Dow Jones naik 0,61%, S&P 500 menguat 1,14%, dan Nasdaq Composite melonjak 1,69%. Penguatan ini didorong oleh penurunan imbal hasil US Treasury dan harga minyak. Namun, pasar tetap waspada terhadap arah kebijakan The Fed serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga minyak Brent terkoreksi sekitar 1% menjadi US$104,82 per barel, dan minyak WTI turun ke US$101,91 per barel. Meskipun demikian, harga komoditas energi ini masih bertahan di atas US$100 per barel. Risiko gangguan pasokan akibat konflik yang memanas antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran masih sangat tinggi, bahkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan menurun tajam.
Dari Amerika Serikat, klaim tunjangan pengangguran yang turun menjadi 196.000, lebih rendah dari ekspektasi, menunjukkan pasar tenaga kerja yang kuat. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi investor, karena dapat memengaruhi keputusan kebijakan moneter Federal Reserve ke depan. Sementara itu, Bank of England (BoE) di Eropa mempertahankan suku bunga di 3,75% meskipun inflasi Inggris meningkat.
Di Asia, perhatian tertuju pada Jepang. Data inflasi Agustus akan dirilis, disusul pengumuman keputusan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ). Pasar memproyeksikan BoJ akan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25%, sebuah langkah yang berpotensi mengguncang pergerakan yen, obligasi Jepang, hingga arus dana investor global.










Tinggalkan komentar