Jangan Kaget! Saham Indonesia Tawarkan Balik Modal Hanya 7 Tahun

Jangan Kaget! Saham Indonesia Tawarkan Balik Modal Hanya 7 Tahun

Haluannews Ekonomi – Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyuarakan optimisme tinggi terhadap prospek investasi di pasar saham Indonesia. Menurut mereka, daya tarik bukan hanya terletak pada potensi imbal hasil yang menjanjikan, melainkan juga pada tawaran dividen yang menggiurkan dari sejumlah emiten domestik.

COLLABMEDIANET

Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, menjelaskan bahwa filosofi investasi pihaknya di bursa saham berpusat pada seleksi emiten dengan fundamental yang kokoh. Kriteria utama mencakup likuiditas saham yang prima, keberlanjutan model bisnis, dan kekuatan arus kas perusahaan.

Jangan Kaget! Saham Indonesia Tawarkan Balik Modal Hanya 7 Tahun
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pandu menyoroti bahwa, dengan mengecualikan saham-saham konglomerat atau yang memiliki valuasi premium dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), banyak saham di Indonesia diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (Price to Earnings Ratio/PER) sekitar 11 kali. Angka ini, menurutnya, mengindikasikan valuasi yang relatif atraktif bagi investor.

Ia melanjutkan analisisnya dengan menyoroti metrik rasio harga terhadap arus kas bebas (Price to Free Cash Flow/P/FCF), sebuah indikator yang kerap terabaikan oleh sebagian investor. Pandu mengungkapkan bahwa banyak emiten di Indonesia diperdagangkan di bawah 10 kali P/FCF. Kondisi ini, jelasnya, berpotensi memberikan imbal hasil sebesar 11-12% dan memungkinkan investor untuk mengembalikan modal awal mereka dalam kurun waktu 7-8 tahun, semata-mata dari distribusi dividen atau akumulasi arus kas bebas.

"Bahkan tanpa mempertimbangkan pergerakan harga saham, penawaran di pasar saat ini sangat menarik karena memungkinkan pengembalian modal dalam 7-8 tahun hanya dari dividen atau arus kas bebas," tegas Pandu saat berbicara dalam program Closing Bell Haluannews.id, Jumat (6/2/2026).

Pandu juga mengamati bahwa lanskap pasar saat ini didominasi oleh investor ritel yang pergerakannya seringkali dipicu oleh sentimen. Alih-alih melihatnya sebagai risiko, Pandu justru memandang situasi ini sebagai peluang emas bagi investor untuk mengambil posisi berani ketika sebagian besar pelaku pasar lain diliputi keraguan.

"Dominasi investor ritel yang sentimentil ini justru menjadi kunci. Seperti pesan Warren Buffett: ‘Be greedy when others are fearful.’ Inilah momen yang sedang terjadi, dan mungkin saatnya bagi kita untuk mempraktikkannya," ujarnya, merujuk pada dinamika yang terlihat di media sosial.

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Sebelumnya, dalam acara Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan oleh Prasasti Centre di Ritz Carlton, Jakarta, pada Kamis (29/1/2026), Pandu Sjahrir telah mengungkapkan bahwa Danantara telah aktif memasuki pasar saham. Ia bahkan menegaskan bahwa Danantara secara konsisten melakukan investasi di pasar modal setiap hari.

"Kami memang sudah berinvestasi, namun kami memilih untuk tidak terlalu menggembar-gemborkannya. Sebab, jika semua informasi tersebar, Anda tahu bagaimana pasar akan bereaksi," tutur Pandu, sebagaimana dikutip oleh Haluannews.id pada Senin (2/2/2026).

Pandu juga sempat membocorkan kriteria spesifik saham yang menjadi target akuisisi Danantara. "Tentunya, untuk saham-saham di Indonesia, kami memprioritaskan emiten dengan fundamental yang kuat," jelasnya. Selain itu, faktor likuiditas dan valuasi intrinsik perusahaan juga menjadi pertimbangan krusial dalam keputusan investasi Danantara.

"Saham harus memiliki likuiditas yang baik, dan kami juga harus memilih nilai yang tepat. Jadi, fundamental, likuiditas, dan nilai adalah tiga pilar utama yang kami perhatikan secara fundamental," pungkas Pandu.

(Mentari Puspadini/mkh)
Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar