Jangan Asal Borong Saham Murah Saat Turun

Jangan Asal Borong Saham Murah Saat Turun

haluannews.id – Kondisi pasar modal Indonesia belakangan ini tengah mengalami gejolak yang cukup signifikan. Fenomena jatuhnya harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Salah satu pemicu utamanya adalah adanya usulan dari MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia, dari yang semula masuk dalam kategori emerging market menjadi standalone market. Sentimen perubahan klasifikasi ini berdampak langsung pada tekanan jual yang membuat harga banyak emiten berguguran.

COLLABMEDIANET

Namun, di tengah situasi pasar yang sedang "berdarah", Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memberikan peringatan keras kepada para investor. Mereka mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam pola pikir bahwa setiap penurunan harga saham adalah sinyal bahwa saham tersebut sudah murah dan layak dibeli.

Jangan Asal Borong Saham Murah Saat Turun
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menekankan pentingnya ketelitian dalam memilih instrumen investasi. Menurutnya, harga yang rendah bukan satu-satunya indikator utama untuk melakukan aksi beli. Investor diminta untuk tidak sekadar mengejar harga murah, melainkan harus melakukan analisis fundamental yang mendalam terhadap emiten yang diincar.

"Investor perlu memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, arus kas yang sehat, tingkat utang yang terkendali, hingga kualitas tata kelola perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi," ujar Pandu dalam keterangannya.

Pandu menjelaskan bahwa strategi investasi yang ideal adalah mencari perusahaan yang memiliki profitabilitas kuat namun tetap menawarkan valuasi yang menarik. Ia memberikan gambaran mengenai kondisi emiten di Indonesia saat ini. Dari data yang dihimpun, terdapat 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 perusahaan tercatat memiliki Return on Equity (ROE) yang sangat baik, yakni di atas 15 persen.

Menariknya, pada sektor perbankan dan konsumsi, ditemukan beberapa perusahaan yang memiliki ROE mencapai angka 20 persen, namun masih diperdagangkan dengan rasio Price to Earnings (PE) di bawah 10 kali. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada peluang emas bagi investor yang jeli melihat kualitas bisnis di balik harga saham yang sedang terkoreksi.

Sebagai catatan bagi investor pemula, ROE merupakan indikator untuk mengukur seberapa efektif perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham. Sementara itu, rasio PE digunakan untuk membandingkan harga saham dengan laba bersih, dan Price to Book Value (PBV) digunakan untuk membandingkan harga saham dengan nilai buku ekuitasnya.

Meski indikator-indikator tersebut terlihat menjanjikan, Pandu mengingatkan agar investor tidak menggunakan angka-angka tersebut secara terpisah. Menilai sebuah saham harus dilakukan secara holistik, yakni dengan menggabungkan kualitas bisnis dan harga pasar secara bersamaan. Jangan sampai investor terjebak membeli saham yang secara valuasi terlihat murah, namun ternyata memiliki fundamental bisnis yang sedang memburuk.

"Intinya, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersamaan, jangan hanya terpaku pada sentimen pasar yang sedang bergejolak," pungkasnya. Dengan pendekatan yang lebih bijak, diharapkan investor dapat memanfaatkan momentum koreksi pasar untuk membangun portofolio yang berkualitas tinggi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar