Haluannews Ekonomi – Aksi demonstrasi yang melibatkan karyawan Indomaret pecah di kantor pusat perusahaan, kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, pada Selasa (26/5/2026). Unjuk rasa ini menjadi sorotan, terutama mengingat posisi Indomaret sebagai salah satu raksasa ritel di Indonesia. Di tengah gejolak tuntutan karyawan terkait kebijakan upah lembur, bagaimana sebenarnya kondisi finansial entitas di bawah naungan PT Indomarco Prismatama ini?

Related Post
Mengutip laporan Detik.com, para karyawan menyuarakan protes keras terhadap perubahan kebijakan perusahaan yang kini mengganti upah lembur pada tanggal merah menjadi hari libur pengganti. Kebijakan ini dinilai merugikan karyawan, memicu ancaman gelombang demonstrasi yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak diakomodasi oleh manajemen Indomaret.

Sebagai informasi, Indomaret merupakan merek waralaba yang beroperasi di bawah payung PT Indomarco Prismatama. Perusahaan ini sendiri merupakan anak usaha strategis dari PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), sebuah entitas yang bernaung di bawah konglomerasi bisnis Anthoni Salim.
Meskipun menghadapi riak protes internal, kinerja keuangan Indomarco Prismatama menunjukkan pertumbuhan yang solid. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, penjualan neto perusahaan tercatat mencapai Rp33,15 triliun. Angka ini merefleksikan peningkatan signifikan sebesar 14,15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang kala itu berada di angka Rp29,04 triliun. Tak hanya itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turut menanjak 3,67% secara tahunan (yoy), mencapai Rp489,01 miliar.
Dari sisi neraca, posisi aset Indomarco Prismatama hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar Rp58,48 triliun, sementara total liabilitasnya berada di angka Rp33,34 triliun. Terdapat dinamika pada komponen aset; aset lancar perusahaan mengalami sedikit penurunan menjadi Rp27,84 triliun dari posisi akhir 2025 sebesar Rp30,55 triliun. Namun, penurunan ini diimbangi oleh kenaikan aset tidak lancar yang mencapai Rp30,64 triliun, dari sebelumnya Rp29,71 triliun. Menariknya, total liabilitas perusahaan justru menunjukkan tren penurunan, menyusut menjadi Rp33,34 triliun dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp35,62 triliun, menandakan pengelolaan utang yang lebih efisien.
Sebagai pemegang 40% saham Indomarco, kontribusi laba dari entitas ritel ini sangat vital bagi DNET. Tercatat, Indomarco menyumbang laba sebesar Rp195,31 miliar kepada DNET, yang setara dengan 83,28% dari total laba DNET per Maret 2026. Angka ini menegaskan dominasi Indomaret dalam portofolio bisnis PT Indoritel Makmur Internasional Tbk.
Selain Indomarco, DNET juga memiliki kepemilikan saham di PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), produsen Sari Roti, dan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang waralaba KFC di Indonesia. Namun, kontribusi laba dari kedua perusahaan tersebut terbilang minim jika dibandingkan dengan Indomaret. ROTI hanya menyumbang Rp571 juta ke laba DNET, sementara emiten KFC berkontribusi Rp4,98 miliar, jauh di bawah angka yang disumbangkan oleh Indomaret.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar